Sejak TikTok ganti kepemilikan di AS, langkah mereka jadi agak berat. Tingkat pengguna yang menghapus TikTok naik 150% dari pada 3 bulan sebelumnya.
Dilansir dari CNBC, Selasa (28/1/2026) firma intelijen pasar Sensor Tower melaporkan bahwa dalam 5 hari terakhir, banyak pengguna TikTok di Amerika menghapus aplikasi itu. Jumlahnya 150% lebih banyak dari pada 3 bulan terakhir.
Padahal, baru minggu lalu ByteDance mengumumkan entitas baru TikTOK USDS Joint Venture LLC. Oracle, Silver Lake dan MGX (dari Abu Dhabi) masing-masing pegang 15% saham.
Namun kemudian ada masalah yang dikeluhkan pengguna yaitu soal kebijakan privasi. TikTok mengumpulkan semua yang diupload pengguna termasuk draf yang tidak pernah di-posting.
TikTok juga mengambil keystroke patterns, atau pola gerakan jari di layar ponsel, nomor kontak dari di ponsel pengguna jika sinkronisasi dan informasi sensitif seperti ras dan etnis, orientasi seksual, status transgender atau nonbinary, kewarganegaraan dan imigrasi serta informasi keuangan.
Hal ini tampaknya membuat pengguna agak seram. Seorang kreator bernama Dre Ronayne dengan hampir 400 ribu follower mengumumkan dia menghapus akunnya.
"Kalau saya bisa menghapus platform terbesar saya karena masalah aturan dan sensor yang kelewatan, kamu juga bisa," kata Ronayne.
Sementara TikTok belum ada tanggapan langsung soal ini. Mereka menanggapi soal sejumlah bug di aplikasi, alasan mereka adalah mati listrik yang sempat terjadi di data center. Bug ini antara lain tampilan error soal jumlah view dan like serta aplikasi menjadi lebih lemot.
Simak Video "Video: Suami di Tasik Aniaya Istri gegara Cemburu Korban Kerap Main TikTok"
(fay/fyk)