Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Aneka Cawe-cawe Elon Musk untuk Goyang Iran

Aneka Cawe-cawe Elon Musk untuk Goyang Iran


Fitraya Ramadhanny - detikInet

U.S. President Donald Trump and Elon Musk attend a press conference in the Oval Office of the White House in Washington, D.C., U.S., May 30, 2025. REUTERS/Nathan Howard
Foto: REUTERS/Nathan Howard
Jakarta -

Elon Musk dengan posisinya sebagai pemilik X.com dan Starlink secara langsung ikut campur dalam permasalahan politik di Iran. Sejumlah hal telah dilakukannya.

Dilansir Al Jazeera, Senin (12/1/2026) Elon Musk secara aktif berusaha ikut membentuk opini dan mempengaruhi publik, serta mengatur informasi dan konektivitas di saat Iran digoyang unjuk rasa.

Pada 4 Januari 2026 lalu, Elon Musk menjawab cuitan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Waktu Ali Khamenei bilang tidak akan menyerah terhadap musuh, Musk menjawab dengan sindiran, "Delusional."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Sabtu, 10 Januari 2026 kemarin X.com milik Musk mengganti emoji bendera Iran versi Revolusi Islam 1979, menjadi versi rezim Shah Iran yang memakai logo singa dan matahari. Perubahan ini hanya untuk X.com versi web.

Langkah Elon Musk mengganti emoji bendera Iran mendapat dukungan dari para pengkritik pemerintah Iran yang sekarang. Bendera Iran berlogo singa memang dipakai kelompok oposisi.

ADVERTISEMENT

Cawe-cawe Elon Musk terhadap Iran rupanya bukan kali ini saja. Peneliti dari Center for International Policy, Negar Mortazavi mengingatkan Elon Musk juga memakai Starlink untuk mempengaruhi kejadian politik di Iran.

Dalam unjuk rasa 'Women, Life, Freedom' di Iran tahun 2022, Elon mengirimkan layanan Starlink supaya rakyat Iran mendapatkan akses internet. Elon Musk juga kembali mengirim Starlink saat Perang 12 Hari tahun 2025 antara Iran melawan Israel.

Pemerintah Iran dilaporkan berusaha mencegah rakyat Iran mendapatkan koneksi internet lewat Starlink.

"Negara menggunakan disrupsi dan mematikan internet untuk mencegah mobilisasi pengunjuk rasa dan komunikasi di antara kelompok-kelompok yang protes dan untuk mencegah beredarnya pemberitaan," kata Motazavi.




(fay/fyk)







Hide Ads