Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
HP Indonesia Tepis Studi Polusi Printer Laser

HP Indonesia Tepis Studi Polusi Printer Laser


- detikInet

Jakarta - Sebelumnya, studi yang digagas para peneliti Queensland University of Technology Australia mengklaim, beberapa printer laser Hewlett-Packard (HP) mengeluarkan polusi partikel polutan yang dapat mengancam kesehatan. Tak terima, HP Indonesia lantas memberi pernyataan untuk menepis studi tersebut.Mariana Kasim, Marketing Director Imaging Printing Group and Personal Systems Group Hewlett-Packard Indonesia mengatakan, laporan yang dikeluarkan tersebut sebenarnya terkait Ultra Fine Particle Emission (UFP) yang merupakan metode tes terbaru dalam dunia sains."Namun tes ini belum ada standardisasinya, dan belum terindikasi secara direct (langsung) berbahaya untuk kesehatan," tegas Mariana kepada detikINET, Jumat (3/8/2007).Sedangkan partikel yang dikeluarkan tersebut, menurut Mariana, bukan hanya dihasilkan oleh printer tetapi juga bisa dihasilkan oleh Mikrowave dan toaster."Emisi yang dikeluarkan oleh toaster saja belum dibedakan serta tidak ada standardisasi, jadi sampai batas mana itu berbahaya belum ditentukan, jadi kalau di sini (studi Queensland University-red) dikatakan berbahaya, bahaya itu berapa?" kilahnya.Selain itu juga mengenai pernyataan mereka yang mengatakan polutan yang ditimbulkan sama dengan yang dihasilkan rokok itu kami sangat tidak setuju sekali, lanjut Mariana.HP sendiri, menurut Mariana, sebenarnya sudah mempunyai riset terkait UFP yang bekerja sama dengan dua institusi internasional, yaitu Air Quaility Scientist Amerika Serikat dan Wilhem-Klauditz di Jerman. Dengan hasil awal mengindikasikan tidak ada ancaman resiko kesehatan dari emisi printer HP."Karena desain printer laser kami sudah memenuhi standardisasi guideline Blue Angel Programme Jerman, itu standardisasi keamanan dan program Green Guard di AS. Serta sudah disertifikasi internasional standar di bawah batas yang bisa membahayakan sehingga tidak hanya untuk kesehatan manusia tapi juga untuk lingkungan seperti ozon," jelas Mariana.Ada di IndonesiaMariana mengakui, model-model printer yang masuk 'daftar hitam' dalam studi Queensland University of Technology Australia itu juga dijual di pasar Indonesia.Namun, ia berani menjamin jika konsumen menggunakan produk HP original tidak akan mendapat ancaman kesehatan. "Sebelum masuk produksi sudah diteliti sendiri dan tes metodologinya itu sampai disertifikasi oleh ministry of health di Jerman," beber Mariana.Lalu ketika ditanyakan apakah HP akan mengajukan gugatan ke pihak Queensland University of Technology Australia? Mariana menjawab, pihak regional HP telah menanyakan guna meminta kejelasan lebih lanjut seperti metode apa yang digunakan, umur printer serta toner yang digunakan."Tapi kami keberatan dengan hasil studi tersebut, studi itu bagus tapi dengan konklusi-nya kami keberatan jika disebutkan printer kami berakibat pada kesehatan. Karena kami telah melakukan R&D (research and development) dan hasilnya tidak berbahaya untuk kesehatan," tegasnya.Dan karena ini juga metode baru, HP juga ingin mengadakan studi bersama, tetapi yang pasti UFP dianggap belum mempunyai level standardisasi. "Kami guarantee produk kami tidak berbahaya dan kami juga tidak ingin ini menjadi chaos," Mariana menandaskan. (ash/wsh)





Hide Ads