Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sampah Elektronik Bisa Jadi Tambang Emas

Sampah Elektronik Bisa Jadi Tambang Emas


- detikInet

Jakarta - Tahukah Anda kalau sampah peralatan elektronik (e-waste) yang biasa dibuang itu ternyata masih sangat berharga? Bahkan, tiap ton-nya mengandung emas 17 kali lebih banyak dari bijih emas dan 40 kali lebih banyak mengandung tembaga dibanding bijih tembaga.Vnunet yang dikutip detikINET, Selasa (22/5/2007) melansir, hal tersebut dikemukakan sebuah situs berita Foreign Policy dalam laporannya yang berjudul 'Inside the Digital Dump'.Dalam laporan tersebut, sekitar 20 sampai 50 juta ton sampah elektronik memenuhi tempat pembuangan akhir di seluruh dunia setiap tahunnya. Sebagian besar sampah berasal dari pengguna yang meng-upgrade komputer dan peralatan rumah elektronik lain.Meski sudah menjadi sampah namun rongsokan ini masih harus mengeluarkan biaya untuk pengelolaannya. Diperkirakan biaya yang dikeluarkan pada 2009 bisa mencapai US$ 11 miliar ($1 = Rp 8705, sumber: detikcom) dan biaya tersebut dapat lebih murah 10 kali lipatnya jika perusahaan 'mengirimkan' rongsokan tersebut ke luar negeri dibanding dikelola sendiri.Negara yang menampung sampah yang masih bisa terpakai tersebut biasanya adalah negara berkembang seperti Cina, India dan Nigeria.Walau terkadang negara berkembang menyatakan pelarangan terhadap rongsokan ini namun, perkembangan ekonomi lokal justru sangat berpengaruh. Terbukti di wilayah Guiyu, Cina, telah memperkerjakan lebih dari 100.000 orang untuk mengelola sampah ini.Wilayah ini dikenal sebagai tempat penampungan sampah elektronik terbesar di dunia. Pekerjanya rata-rata mendapatkan pemasukan sekitar US$ 2 sampai US$ 4 per hari hanya untuk men-sorting, membongkar atau menghancurleburkan peralatan elektronik.Dari aktivitas tersebut, mereka dapat mengumpulkan berbagai komponen metal termasuk emas, tembaga dan aluminium yang sebelumnya telah dilelehkan. Di sisi lain, meski berpotensi menghasilkan logam mulia, pengolahan sampah elektronik bisa mencemari lingkungan sekitar. Proses pelelehan sampah elektronik akan melepaskan logam berat merkuri dan cadmium ke udara, tanah, dan air. (ash/wsh)






Hide Ads