Media Online Selamatkan Koran
- detikInet
Jakarta -
Pembaca kini mulai meninggalkan media cetak dan beralih ke situs-situs berita. Agar selamat, perusahaan surat kabar harus melengkapi diri dengan edisi online. Tak hanya pembaca, para pemasang iklan pun mulai mengincar peluang beriklan di media online.Kondisi tersebut terjadi di Amerika Serikat, negara dengan penetrasi Internet tertinggi di dunia. Sejumlah kasus menunjukkan mulai luruhnya bisnis media cetak di negara Paman Sam itu.Philadelphia Inquirer mengumumkan pengurangan 17 persen staf editorialnya, Boston Globe menutup tiga biro luar negerinya dan Los Angeles Times sedang mencari pembeli.Angka penjualan koran juga turun, data Newspaper Association of America (NAA) menunjukkan, jumlah pembaca media cetak turun 2,8 persen pada periode April sampai September 2006 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.Gejala-gejala transformasi media sejatinya sudah terasa dalam beberapa tahun belakangan, ketika perusahaan-perusahaan surat kabar mewaspadai daya saing media baru yang beredar di Internet. Tapi kini, perusahaan media menganggap edisi online lebih sebagai penyelamat daripada pesaing. Tinggal bagaimana mengatur proses bisnisnya."Industri kini makin serius menggarap media online," demikian isi laporan State of The News Media 2007 yang digarap Project for Excellece in Journalism, seperti dikutip detikINET dari AFP, Jumat (30/3/2007).Menurut data NAA, di tahun 2006, situs-situs surat kabar rata-rata mengalami peningkatan jumlah pembaca sebesar 22 persen, menjadi 56,4 juta pembaca. Surat kabar kenamaan Amerika Serikat juga makin gesit membenahi edisi online-nya. Washington Post misalnya, menyuguhkan konten yang berbeda yang lebih bercitarasa internasional dibanding edisi cetaknya.Dallas Morning News, sejak Januari 2006, sebagian fotografernya membuat video dan setiap hari menayangkan enam video di situsnya. Begitu disampaikan wakil kepala desk foto Dallas Morning News, Chris Wilkins.Menurut Wilkins, dengan penurunan jumlah staf editorial sebanyak dua kali lipat dalam dua tahun, diperkirakan dalam 10 tahun ke depan koran akan menjadi produk pendamping situs berita. "Itu tidak terelakkan," ujarnya.Iklan online juga tumbuh. Menurut NAA, pada tahun 2006 terjadi peningkatan 31,5 persen, meski jumlah tersebut hanya sebesar 5,4 persen dari porsi iklan surat kabar.Tom Rosenstiel, kepala Project for Excellece in Journalism berpendapat, perusahaan surat kabar kini harus lebih giat mengupayakan agar situs beritanya jadi lebih menguntungkan."Bertahan atau tidaknya jurnalisme serta kesehatannya tergantung apakah sisi bisnisnya dapat mencari model ekonomi baru untuk mensubsidi kreativitas pemberitaan," tuturnya.
(nks/nks)