Ortu Ketagihan BlackBerry, Anak Terlantar
- detikInet
Jakarta -
Perangkat komunikasi seperti BlackBerry dan Palm Treo, tengah menjadi perdebatan hangat di Amerika Serikat (AS). Bagaimana tidak? BlackBerry telah membuat para orangtua di AS keranjingan kerja tanpa mengingat waktu.Mereka tetap melakukan pekerjaan kantor di rumahnya masing-masing dengan memanfaatkan peralatan berteknologi canggih itu. Alhasil, anak kecil dan remaja di AS kini harus bersaing dengan Blackberry demi mendapat perhatian orangtua mereka.Bob Ledbetter Jr misalnya, suatu hari ia dan saudara kandungnya tidak digubris ayahnya yang sedang asyik mengoperasikan ponsel BlackBerry, meski telah memanggilnya berulang kali."Kadang-kadang aku menganggap ayah tuli," ujarnya. Demikian dikutip detikINET dari abcnews.com, Kamis (14/12/2006).Sementara Bob Ledbetter Sr mengaku, sebagai salah seorang dari 6,2 juta pelanggan BlackBerry di AS, ia merasa sulit meletakkan ponselnya. Research In Motion (RIM), sang pembuat Blackberry, mengungkap bahwa pengguna BlackBerry di AS naik dua kali lipat dalam setahun terakhir dan sebagian besar adalah orang tua.Demikian asyiknya kalangan orangtua memanfaatkan ponsel itu, Wall Street Journal di New York akhirnya menerbitkan artikel berjudul "Anak Yatim Akibat Blackberry". Artikel ini memuat kasus-kasus yang menimpa anak-anak akibat orangtua mereka yang kecanduan BlackBerry.Salah satu kasus yang diungkap npr.org, Emma Colona (14) meyakini ibunya sedang sibuk berkirim e-mail melalui Palm Treos-nya, padahal mereka sedang mengikuti upacara kenaikan kelas.Keamanan juga menjadi isu lain. Will Singletary (9) misalnya, mengkhawatirkan cara mengemudi ayahnya yang terlalu sering melihat ke BlackBerry-nya. Ayahnya menyanggah, ada beberapa e-mail yang penting untuk dilihat.Terkait hal ini, para ahli terapi keluarga berkesimpulan bahwa ketagihan orangtua untuk selalu berkutat dengan BlackBerry dan peralatan canggih lainnya bukan hanya berdampak buruk terhadap pemakainya, tetapi juga kepada perkembangan anak."Mereka akan kehilangan waktu dengan keluarga. Mereka juga akan kehilangan kendali diri," ujar Profesor Gayle Portner dari Sekolah Bisnis Universitas Rutgers.
(dwn/dwn)