Kontroversi Wren Eleanor, Hati-hati Posting Foto Anak di TikTok

ADVERTISEMENT

Kontroversi Wren Eleanor, Hati-hati Posting Foto Anak di TikTok

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Sabtu, 06 Agu 2022 18:14 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual
Ilustrasi (Foto: iStockphoto)
Jakarta -

Di Amerika sedang ada gerakan menghapus foto anak di TikTok. Diduga para predator seksual online beraksi dalam senyap.

Gerakan ini dinamai Wren Eleanor Movement. Siapa Wren Eleanor? Beginilah kisahnya:

Diberitakan New York Post seperti dilihat Sabtu (6/8/2022) para orangtua di Amerika ikutan sebuah gerakan di media sosial yang disebut Wren Eleanor Movement. Mereka menghapus foto anak-anak mereka dari akun medsos para orang tua masing-masing, terutama TikTok.

Hal ini dipicu dari akun TikTok viral Wren Eleanor. Ini adalah akun TikTok anak perempuan berusia 3 tahun, pirang, bermata biru dan punya 17 juta follower.

Isi postingannya adalah kegiatan sehari-hari bocah tersebut, mulai dari makan sampai berenang. Semua suka dengan tingkah lucu dan imutnya.

Namun, seorang TikToker yang juga seorang ibu bernama Jess dengan akun @hastagfacts mencurigai ada yang tidak wajar dan pertama kali bersuara di dunia maya.

Dia mengatakan postingan Wren dengan baju crop top di-saved 45 ribu kali. Video TikTok Wren makan hotdog di-saved 345 ribu kali.

Banyak akun dengan nama laki-laki memberikan komentar menjijikkan. Ada juga komentar semacam ini, "Dia begitu dewasa untuk seumurannya."

Jess mengatakan Wren Eleanor diduga jadi incaran para pedofil dan predator seks di dunia maya. Dari situ, mulailah para orang tua di Amerika menghapus video dan foto anak mereka di media sosial terutama di TikTok. Lahirlah yang disebut Wren Eleanor Movement.

Bagaimana reaksi ibunda Wren yang bernama Jacquelyn? Dalam postingannya di TikTok dan Instagram seperti dilihat detikINET, dia justru membantah keras anaknya diincar pedofil. Anaknya baik-baik saja dan keributan ini disebutnya adalah perbuatan orang yang tidak senang dengan akun TikTok Wren yang populer. Jacquelyn mengatakan semua itu cuma rumor yang 100% salah.

"Saya sudah kontak FBI. Tidak ada gambar anak saya ditemukan di situs jahat. Kalau ada bukti nyata silakan kontak saya segera," kata Jacquelyn.

Sementara itu, Direktur Eksekutif National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC) Amerika, Calahan Walsh mengatakan bahwa para orang tua perlu hati-hati jika memposting foto anak di media sosial. Tidak semua orang yang melihat postingan kita punya niat baik.

"Predator online, anonim dan susah dilacak, mencari konten yang pengguna tidak menyadari bahwa itu berbahaya," kata dia.

Jika sudah mendapatkan kontennya, ada risiko para predator online akan mengincar anak tersebut di dunia nyata. Oleh karena itu, Calahan meminta para orang tua untuk tidak pernah menyebutkan informasi yang terlalu rinci misalnya lokasi tempat, pada postingan media sosial yang mencantumkan foto anak.

"Pikir dua kali, percaya perasaan Anda. Pahami ada orang jahat di luar sana. Jaga anak-anak Anda supaya aman," pesan Calahan.



Simak Video "Mengaku Berusia 11 Tahun, Pria di Klaten Lakukan Pelecehan Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT