Stop Galon Oplosan, Warganet Tuntut Produsen Berbenah Diri

ADVERTISEMENT

Stop Galon Oplosan, Warganet Tuntut Produsen Berbenah Diri

Inkana Putri - detikInet
Senin, 01 Agu 2022 15:03 WIB
Ilustrasi galon air mineral.
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Kasus galon oplosan atau pemalsuan air minum dalam kemasan (AMDK) galon merek ternama yang dicokok polisi di Cilegon, Banten, pada pertengahan Juli 2002 terus bergulir. Hal ini mengakibatkan mulai beredar tuntutan agar produsen tersebut memperbaiki rantai pasok bisnisnya di antaranya dengan memperbaiki keamanan kemasan produk.

Terkait hal ini, masyarakat juga mengingatkan jaminan perlindungan konsumen seperti yang tertuang dalam UU Perlindungan. Tuntutan lain warganet juga meminta produsen memasang penanda distributor atau agen dengan lisensi resmi, agar mereka dapat segera menghentikan praktek galon oplosan yang terus berulang setiap tahun di Indonesia.

Kasus galon oplosan juga mendadak viral di media sosial mula dari Twitter, Instagram, Facebook dan TikTok. Beberapa netizen juga melayangkan komentar mulai dari marah karena merasa tertipu, hingga merasa kebingungan karena sulitnya membedakan galon asli dengan galon oplosan yang berisi air tidak higienis.

Menunjuk salah satu pemberitaan, pemilik akun @Lil**d2011 berkomentar 'Nah lho! Bagaimana cara kita membedakan yang asli sama galon oplosan kalau tutupnya diganti begitu? Ini sih harus super teliti!.'

Keluhan serupa pun diungkapkan netizen lain. Di Instagram dan TikTok, mereka menyuarakan keresahan dan kebingungannya karena sulit membedakan produk oplosan dan produk asli. "Biar masyarakat tidak khawatir, ayo dong atasi kasus galon oplosan ini," tulis akun Instagram @f**sanab.

"Galon oplosan ada? Apa aku termasuk konsumen juga? Gimana sih membedakannya?" tulis pemilik akun Tiktok @**el.

Tak hanya itu, terdapat netizen yang memberikan informasi soal maraknya kasus galon berisi air oplosan di daerahnya. 'Sudah lama kasus air galon palsu yang bermerek terkenal... di Kota Batu, Jawa Timur, juga banyak yang palsu, makanya di Jawa Timur konsumen beralih ke air minum galon merek lain," tulis akun pemilik akun Instagram @57**iko.

Sementara di platform YouTube, seorang netizen berkomentar pada video yang dirilis polisi. Dalam video tersebut, terlihat cara pelaku pengoplosan menukar tutup galon lama dengan tutup galon asli milik merek ternama. Kasus ini tentunya mengejutkan publik lantaran diperlukan penjelasan soal bagaimana tutup galon asli merek ternama tersebut dapat diperoleh dan diperjualbelikan dengan mudah di pasar.

"Merek ternama kok ga menjamin keasliannya? Ternyata segelnya mudah dibobol, malah alat untuk membobol pun sederhana," tulis pemilik akun YouTube @***madfaniarkhafidifani.

Untuk menghentikan berlanjutnya praktek galon oplosan merek ternama ini, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) meminta agar produsen AMDK galon isi ulang menetapkan agen resmi. Hal ini bertujuan agar masyarakat terlindungi dan terhindar dari membeli AMDK galon isi ulang oplosan.

"Agen resmi memang sudah sepatutnya ada, sehingga mutu dan kualitas barang terjamin. Hal ini sesuai Pasal 4 huruf (c) Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang menyatakan hak konsumen adalah hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan atau jasa," kata anggota BPKN Slamet Riyadi dalam keterangan tertulis, Senin (1/8/2022).

Selain meminta agar segera dilakukan penetapan agen resmi, BPKN juga mendorong produsen AMDK galon isi ulang yang mereknya banyak dioplos untuk segera membenahi tata kelola bisnisnya. Slamet mengatakan pembenahan terutama harus dilakukan pada sisi hilir agar praktik pemalsuan tidak terus berulang.

"Titik lemah ada di hilir, karena seringkali penjual atau warung tergiur tawaran galon isi ulang yang harganya lebih murah daripada harga yang normal," kata Slamet.

BPKN juga menyarankan agar produsen menerapkan pelabelan kemasan galon isi ulang sebagai cara jitu menangkal praktek galon oplosan. Misalnya dengan menggunakan label sekaligus segel sekali buka.

Sejauh ini, Kepolisian Resor Cilegon dikabarkan akan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengecek air dalam kemasan galon isi ulang merek yang paling sering dipalsukan.

Polisi hingga saat ini pun masih memburu satu orang pelaku yang diduga menyuplai tutup galon isi ulang merek ternama. Diduga, pelaku memiliki akses ke perusahaan produsen tutup botol merek ternama yang dipasang pada galon oplosan.

Meningkatnya kecemasan konsumen AMDK tentunya perlu segera dijawab. Sebab, tidak mudah bagi konsumen membedakan air minum dalam galon yang asli dan mana galon oplosan. Kebingungan konsumen pun tidak dijawab dengan panduan yang mudah, bahkan justru cenderung ruwet.

Dalam salah satu panduan yang dirilis di website resmi merek ternama yang dioplos, konsumen dianjurkan untuk 'Melihat kode produksi dengan seksama. Menemukan kode BB (Best Before) berupa print tinta hitam terdiri dari tanggal, bulan dan tahun pembuatan. Cek cetakan kadaluarsa air dalam keadaan terbaca sempurna dan jelas. Melihat keberadaan tanggal produksi di badan dan tutup galon'.

Tentu berat bagi konsumen jika dibebani tugas untuk mengecek panduan dengan kode-kode angka dan tulisan yang mereka tidak terbiasa, setiap mereka akan mengeluarkan uang untuk membeli galon air mineral ternama tersebut. Kesannya, minum air mineral bukannya menjadi mudah, malah bikin rumit.

Mengenai hal ini, Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tubagus Haryo menyarankan produsen air dalam galon yang dipalsukan agar melakukan evaluasi di seluruh mata rantai distribusi secara rutin. Ia juga meminta agar mereka mempertimbangkan modifikasi desain kemasan, baik galon, tutup maupun segelnya, serta mengedukasi konsumen cara memilih produk yang terjamin asli. Pernyataannya sekaligus mengindikasikan bahwa panduan di website untuk edukasi konsumen masih belum memadai.

"Setiap distributor dan agen seharusnya juga memiliki lisensi resmi," kata Tubagus.

Menurutnya, diperlukannya distributor dan agen yang memiliki lisensi resmi. Pasalnya, kejahatan galon oplosan bukan sekadar pemalsuan tutup botol, tapi juga isi air minum di dalam galonnya.

"Justru air minum dalam kemasan galon itu bukan keluaran pabrikan, sehingga jelas konsumen yang dirugikan," katanya.

Adapun edukasi produsen kepada konsumen dan penerapan pemberian izin lisensi resmi kepada para distributor dan agen AMDK galon, nantinya diharapkan akan mempermudah konsumen untuk mendapatkan air minum dalam kemasan yang layak, aman dan terjamin keaslian airnya. Konsumen juga akan mudah meminta pertanggungjawaban pada distributor dan agen pemegang lisensi resmi merek tertentu karena identitas tempat usahanya jelas, yang mudah ditandai dari papan nama resmi yang dipasang.

Namun, sepanjang produsen air mineral yang paling sering dipalsukan masih belum melakukan hal ini, maka konsumen akan terus terkecoh dengan galon oplosan yang masih terus diproduksi di banyak tempat di Indonesia. Menurut catatan kepolisian, setidaknya penggerebekan komplotan pengolah galon oplosan merek ternama sering kali terjadi di beberapa wilayah di antaranya, penggerebekan di Bantul (2011), Kota Depok (2016), Tangerang Selatan (2017), Tangerang (2018), Pandeglang (2018), Magetan (2020), dan yang terbaru di Cilegon, Banten (2022).

Ibarat puncak gunung es, maraknya praktek pengolahan galon oplosan yang belum terdeteksi mungkin jumlahnya jauh lebih besar. Berulangnya kasus galon oplosan dengan menggunakan tutup botol merek ternama ini seharusnya sudah cukup dijadikan pelajaran. Produsen terkait harus segera berbenah melakukan perbaikan dan secepatnya menerapkan langkah-langkah internal dan eksternal untuk menghentikan praktek galon oplosan. Langkah ini bisa dimulai dengan penunjukan distributor dan agen pemegang lisensi resmi.



Simak Video "Aktivis Lingkungan Kritisi Penggunaan Galon Sekali Pakai"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT