Elon Musk Terancam Dituntut Gegara Urung Beli Twitter

ADVERTISEMENT

Elon Musk Terancam Dituntut Gegara Urung Beli Twitter

Adi Fida Rahman - detikInet
Sabtu, 09 Jul 2022 10:45 WIB
Jakarta -

Elon Musk terancam dituntut gegara urung membeli Twitter senilai USD 44 miliar atau sekitar Rp 659 triliun. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Independen Twitter Bret Taylor merespon keputusan mengejutkan orang terkaya di dunia itu.

"Dewan Twitter berkomitmen untuk menutup transaksi dengan harga dan persyaratan yang disepakati dengan Musk dan berencana untuk mengambil tindakan hukum untuk menegakkan perjanjian merger," kata Taylor di akun Twitternya.

"Kami yakin kami akan menang di Delaware Court of Chancery," tegasnya.

Seperti diketahui Elon Elon Musk resmi mengumumkan pembatalan untuk membeli Twitter. Bos Tesla dan SpaceX itu beralasan perusahaan media sosial berikon burung biru itu memberikan informasi yang menyesatkan selama proses transaksi berlangsung.

"Terkadang Twitter mengabaikan permintaan Musk, terkadang menolaknya karena alasan yang tampaknya tidak dapat dibenarkan, dan terkadang mengklaim untuk mematuhinya sambil memberikan informasi yang tidak lengkap atau tidak dapat digunakan kepada Mr. Musk," tulis pengacara Musk, Mike Ringler dkutip dari lapan NPR.

Dalam surat yang diajukan kepada SEC (Securities and Exchange Commission), Ringler juga menuduh Twitter melanggar perjanjian merger karena diduga berisi "representasi yang tidak akurat secara material." Tuduhan ini didasarkan pada tinjauan awal Musk sendiri terhadap akun spam di platform Twitter.

Tak hanya itu, Musk mengatakan Twitter telah memeceta eksekuti dan sejumlah tim akuisisi. Hal tersebut dinilai melanggar kewajiban Twitter untuk "melestarikan secara substansial komponen material dari organisasi bisnisnya saat ini."

Keputusan Musk kemungkinan akan menghasilkan pergumulan hukum yang berlarut-larut antara miliarder dan perusahaan berusia 16 tahun yang berbasis di San Francisco itu.

Merger dan akuisisi yang disengketakan yang berakhir di pengadilan Delaware lebih sering berakhir dengan perusahaan menegosiasikan kembali kesepakatan atau pihak pengakuisisi membayar target penyelesaian, daripada hakim memerintahkan agar transaksi diselesaikan. Itu karena perusahaan target sering kali ingin menyelesaikan ketidakpastian seputar masa depan mereka dan terus maju.

Twitter, bagaimanapun, berharap bahwa proses pengadilan akan dimulai dalam beberapa minggu dan diselesaikan dalam beberapa bulan, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut.

Ada banyak preseden untuk negosiasi ulang kesepakatan. Beberapa perusahaan melakukan reprice terhadap akuisisi yang telah disepakati ketika pandemi COVID-19 merebak pada tahun 2020 dan memberikan kejutan ekonomi global.

Dalam satu contoh, pengecer Prancis LVMH (LVMH.PA) mengancam akan meninggalkan kesepakatan dengan Tiffany & Co. Pengecer perhiasan AS setuju untuk menurunkan harga akuisisi.

"Saya akan mengatakan Twitter berada dalam posisi yang baik secara hukum untuk menyatakan bahwa itu memberinya semua informasi yang diperlukan dan ini adalah dalih untuk mencari alasan untuk keluar dari kesepakatan," kata Ann Lipton, dekan asosiasi untuk penelitian fakultas di Sekolah Hukum Tulan dilansir dari Reuters.

Pendapat berbeda diutarakan Daniel Ives, seorang analis di Wedbush, mengatakan pengajuan Musk adalah berita buruk bagi Twitter.

"Ini adalah skenario bencana untuk Twitter dan Dewannya karena sekarang perusahaan akan melawan Musk dalam pertempuran pengadilan yang panjang untuk menutup kesepakatan dan/atau biaya perpisahan minimal USD 1 miliar," ujarnya.

(afr/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT