Detikcom 'Diserbu' Pasukan Putih Abu-Abu
- detikInet
Jakarta -
Layaknya kantor media pada umumnya, 'markas' detikcom di Gedung Aldevco Octagon Lantai 2, Jl Warung Buncit 75 Jakarta Selatan, memang sering dikunjungi tamu dari berbagai kalangan. Mulai dari jenderal, politisi, anggota dewan pers, sampai pasukan abu-abu yang kali ini jadi tamu istimewa kami. Mereka adalah siswa-siswi SMK Negeri 1 Cimahi, Jawa Barat, dari jurusan rekayasa perangkat lunak.Kunjungan di sore hari Selasa (23/05/2006)itu, memang sudah direncanakan sebelumnya. Dengan dikawal oleh Ketua Program Rekayasa Perangkat Lunak, Evi Nurariyani, ada 64 orang siswa-siswi yang sangat ingin tahu tentang penerapan teknologi informasi di detikcom. Mereka juga dikawal oleh 8 guru pembimbing lainnya, termasuk guru perangkat lunak dari Jepang yang bernama Simo.Sebelum masuk, para guru meminta rombongan berbaris supaya bisa tertib. Tapi tak lama kemudian, barisan tampak bubar, karena waktu masuk masih cukup lama. Maklum, rombongan yang dijadwalkan berkunjung pukul 14.30 itu, tiba lebih awal. Mereka sampai di pelataran parkir pada pukul 13.15."Kami takut terlambat dari Cimahi, jadi kami berangkat lebih awal. Ternyata malah kecepetan sampai disininya," kata Evi.Dengan jumlah 'pasukan' yang cukup banyak, kami menerima mereka di dua ruang meeting yang dijadikan satu, dengan membuka sekat dinding gipsum yang memisahkannya. Sampai di ruangan, para siswa lalu menempati kursi-kursi yang telah disiapkan. Mereka tampak tertib.Arifin Asydad, Wakil Pemimpin Redaksi 2 detikcom pun menyambut mereka. Arifin kemudian mempersilahkan Heru Tjatur, General Manager IT Agrakom, untuk menjelaskan peta divisi yang dipimpinnya. Sepanjang penjelasan yang disampaikan Tjatur, para siswa tampak antusias mencatat hal-hal yang menarik bagi mereka. Tampaknya banyak hal yang ingin mereka tanyakan lebih lanjut. Buktinya, saat sesi tanya-jawab dibuka, serentetan pertanyaan pun meluncur dari para siswa dan siswi.Ada yang menanyakan lebih jauh mengenai spesifikasi server database detikcom, yang dijelaskan Tjatur sebelumnya. "Pak, tadi dijelaskan bahwa detikcom memakai 1 server database 4 prosesor dengan RAM 4 GB, lalu besar hardisk-nya berapa pak?" tanya seorang siswa.Beragam pertanyaan teknis pun lalu dilontarkan, dan dijawab dengan penjabaran yang gamblang dari Tjatur. Maklum, rombongan yang datang adalah murid-murid SMK plus, yang mematok masa studi lebih lama dari SMK pada umumnya. "Kalau SMK yang lain masa studinya 3 tahun, masa studi kami adalah 4 tahun," papar Evi menjelaskan nilai plus sekolahnya."Saya merasa beruntung mendapat kunjungan dari sekolah plus ini. Lulusan sekolah ini berarti setara dengan lulusan D1," ungkap Tjatur.Lebih jauh, tanya jawab lalu berkembang dengan diskusi soal spesifikasi lulusan yang diinginkan di dunia kerja. Tjatur memaparkan bahwa divisi IT di detikcom tidak harus mensyaratkan unsur brilian bagi pelamar, atau harus yang jago programming sejak awal. "Kami lebih menghargai orang yang kreatif dan mampu berpikir sederhana dalam memecahkan masalah," Tjatur menjelaskan syarat minimal bagi pelamar di divisinya."Lalu bagaimana jika seseorang tidak brilian dan tidak memiliki sifat kreatif, tapi punya keberuntungan. Apakah dia bisa diterima?" tanya seorang siswi yang disambut sorakan dari peserta lain."Wah, kalau begitu setidaknya orang itu punya sifat mau bekerja keras. Agar diterima di tempat kerja, kalian harus bisa 'menjual diri', dalam artian menunjukkan semua potensi yang kalian miliki," papar Tjatur menjawab pertanyaan.Sejumlah pertanyaan masih mewarnai sesi tanya jawab yang berlangsung hampir dua jam itu. Bahkan masih ada penanya yang terpaksa dilewatkan, mengingat keterbatasan waktu.Sesi terakhir dari kunjungan tersebut adalah penjelasan mengenai kanal berita-berita IT dan Telekomunikasi di detikcom, yaitu detikINET.com. "detikcom punya kanal khusus untuk berita-berita IT dan Telekomunikasi, kalau mau tahu perkembangan dan berita-berita IT, klik saja detikINET.com" ujar Wicaksono Hidayat, salah satu pengawal di detikINET."Kami juga tengah menyiapkan ruang khusus untuk menampung tulisan dari para guru, namanya Smart Teacher," papar Wicak soal kanal khusus yang akan ada di detikINET, yang diselenggarakan detikINET dengan bekerjasama dengan IlmuKomputer.com dan PT Microsoft Indonesia."Kami menunggu tulisan dari para guru yang menceritakan tentang penggunaan IT dalam proses belajar mengajar. Nantinya, tulisan yang terkumpul akan dinilai, yang bagus bisa dikirim ke Singapura untuk mengikuti pelatihan IT bagi guru-guru," Wicak mengumumkan.Ajakan menulis itupun disambut antusias. Para guru mencatat alamat e-mail redaksi@detikinet.com, yang akan menampung tulisan para guru. (nks)
(nks/)