Skotlandia Akan Ampuni Para 'Penyihir' yang Dieksekusi 400 Tahun Lalu

Skotlandia Akan Ampuni Para 'Penyihir' yang Dieksekusi 400 Tahun Lalu

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 03 Jan 2022 22:38 WIB
museum penyihir Museo de las Brujas di spanyol
Museum penyihir di Spanyol (Foto: Instagram)
Jakarta -

Skotlandia berencana akan mengampuni sejumlah 'penyihir' yang dieksekusi pada 400 tahun lalu. Diketahui, sebagian besar wanita dan anak perempuan di Skotlandia pada masa lalu dituduh sebagai seorang penyihir. Pengampunan ini datang karena adanya kampanye dari aktivis yang mendorong pemerintah membersihkan nama para korban.

Leo Igwe, seorang profesor di Cape Town University, yang telah bekerja selama bertahun-tahun membela wanita dan anak-anak dari tuduhan sihir di negara asalnya Nigeria, mengatakan ini bisa memberikan dorongan baru untuk menghapus kejahatan serupa di banyak negara.

Dia dan aktivis Skotlandia menarik persamaan antara perburuan penyihir di Afrika saat ini dan Skotlandia abad ke-16, dari pergolakan urbanisasi hingga semangat keagamaan di belakang mereka. Di Edinburgh dan kota-kota Skotlandia lainnya, pembersihan menjadi bagian dari perebutan kekuasaan yang lebih besar antara Gereja Katolik dan reformis Protestan yang diilhami oleh Martin Luther dan John Calvin, dengan sasaran wanita tak berdosa sebagai sarana untuk menunjukkan kesucian tujuan mereka.

"Ada 'demam' untuk mencari tahu siapa yang paling dekat dengan Tuhan," kata Venditozzi.

Demikian juga, Igwe telah bentrok dengan pendeta evangelis di Nigeria yang katanya telah menyelidiki kegiatan 'penyihir' untuk meningkatkan jumlah mereka. Malah terkadang ada serbuan pada pertemuan untuk memperingatkan mereka akan hukum yang berlaku.

"Ada banyak kelompok berbeda yang bersaing untuk mendapatkan legitimasi dan relevansi dan mereka melakukan ini dengan mengidentifikasi orang sebagai penyihir," ucapnya.

Di Skotlandia, butuh waktu puluhan tahun untuk mengakhiri perburuan penyihir. Dalam beberapa kasus, sejumlah orang menuduh tetangga mereka melakukan kejahatan untuk menyelesaikan masalah. Sampai Undang-undang Sihir dicabut tahun 1769, total ada 3.837 orang dipidana, mayoritas perempuan dan 2/3-nya dihukum mati.

Lainnya, termasuk Raja James VI semasa hidupnya tahun 1589, percaya akan penyihir dan mengembangkan apa yang mereka pikir sebagai metode ilmiah untuk mendeteksi tukang sihir. Contohnya seperti menusuk mereka dengan jarum panjang untuk melihat berapa banyak darah yang mereka keluarkan. Jika tidak ada cukup darah, itu dianggap sebagai tanda pasti bahwa terdakwa adalah seorang penyihir. Demikian dirangkum dari The Bharat Express News, Senin (3/1/2021).



Simak Video "Taliban Janji Akan Junjung Tinggi Hak Perempuan di Afganistan!"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)