Year in Review 2021: Pandemi Dorong Lompatan Teknologi

Year in Review 2021: Pandemi Dorong Lompatan Teknologi

20detik - detikInet
Rabu, 29 Des 2021 08:12 WIB
Jakarta -

Sepanjang tahun 2021, warga dunia kian adaptif tekanan pandemi COVID-19 dengan pola hidup yang acapkali disebut sebagai kenormalan baru atau new normal. Tak hanya dalam interaksi, adaptasi juga terjadi di dunia teknologi.

Seluruh sektor dituntut untuk melakukan terobosan teknologi untuk mengatasi kendala di masa pandemi. Digitalisasi misalnya, teknologi tersebut seakan menjadi 'akses baru' dalam interaksi sosial hingga ke ranah bisnis. Digitalisasi kemudian merambah ke berbagai sektor, termasuk kesehatan dan pendidikan.

"Ini tahun yang kita bilang sebagai tahun bangkit. Jadi kita 2020 suffer banget karena pandemi, dipaksa beradaptasi semuanya, akhirnya di tahun 2021 ini kita sudah mulai melihat hasilnya dari kebangkitan itu," ucap Redaktur Pelaksana detikInet Fitraya Ramadhanny.

"Kita bisa melihat bahwa akhirnya banyak inovasi-inovasi yang dipaksa lahir karena pandemi dan itu akhirnya membuat kehidupan kita jadi lebih baik, lebih mudah," tambahnya

Inovasi paling greget juga mencuat pada teknologi gadget. Tak hanya terobosan pada fitur, sejumlah brand kini berkompetisi juga pada inovasi bisnis.

"Gadget yang keluar itu menyesuaikan dengan banyak banget segmentasi market. Jadi lebih variatif. Seperti chipset yang keluar itu juga ngomongin yang khusus gaming, video, segala macem itu disesuaikan dan harga yang makin affordable. Karena mereka juga menciptakan ekonomi-sosialnya lebih banyak," jelas reviewer gadget Ario Pratomo.


Indusri Otomotif Masuk 'Level Baru'

Pelaku industri otomotif berimprovisasi mengatasi ganasnya tekanan pandemi. Sejumlah pabrikan melakukan langkah penyelamatan, seperti pengurangan biaya, reduksi bisnis di seluruh jaringan usaha, dan memprioritaskan investasi yang memberikan peluang laba tinggi.

Agar bisa tetap kompetitif, sejumlah pabrikan mengarahkan bisnis pada mobilitas yang lebih pintar (smarter mobility), serta teknologi-teknologi mutakhir seperti artificial intelligence (AI) dan pemanfaatan telekomunikasi 5G pada kendaraan.

Meskipun mobil full otonom sedang berkembang, jangan sampai melupakan teknologi pintar yang lebih terkoneksi dan terintegrasi, baik di mobil elektrifikasi maupun ICE. Teknologi yang dimaksud di antaranya sistem navigasi, otonomi pengemudian, cross-traffic detection, sensing traffic signals atau pun blind spot monitoring.

"Di 2021 ini satu kali di akhir dan kita kayak benar-benar diberi kesempatan. Dari segi produsen juga segi inovasinya luar biasa. Paling tidak itu yang saya rasakan saat mencoba beberapa mobil dengan teknologi terbaru," ujar reviewer Otomotif Mas Wahid, saat menjadi pembicara dalam detikcom Year in Review 2021

Mas Wahid pun menceritakan pengalamannya menjajal produk kendaraan semi-otonom yang memanfaatkan teknologi pintar. Pria asal Jepara itu mengungkap teknologi yang berkembang berorientasi pada keamanan berkendara.

"Teknologi di 2021, hampir semua brand mungkin mengeluarkan adaptive cruise control. Kita kayak depan melambat 30 km/jam, bisa. Bahkan hingga berhenti, pun, bisa. Markah jalan asalkan sejauh jalan tol itu nyambung, kita cukup dia saja, dia nyetir sendiri, belok-belok sendiri. Memang 10 menit atau 2 menit atau 3 menit sekali, komputer meminta kita memegang setir sebagai tanda bahwa kita masih di situ,", papar Mas Wahid.

Ragam teknologi yang disematkan pada kendaraan terbaru di Indonesia tak hanya tersedia di segmen atas. Mobil low MPV dan Low SUV yang baru rilis juga telah dilengkapi fitur keselamatan dan hiburan seperti yang tersemat di mobil premium. Industri otomotif pun tampak semakin kompetitif. Head of Public Relation Toyota Dimas Aska menyebut fenomena ini menunjukkan bahwa industri otomotif sudah masuk ke 'level baru'.

"Industri otomotif sudah sampai ke level di mana orang datang untuk masuk dan mencoba-coba. Tapi memang marketnya sudah ada. Industri makin bagus, investasi akan makin banyak masuk juga ke Indonesia. Siapa yang paling banyak diuntungkan? Konsumen," ungkap Dimas Aska.

"Dengan makin banyaknya pemain masuk, otomatis terjadi yang namanya kompetisi. Kompetisi yang lebih baik lagi akibatnya teknologi makin bagus, program-program lebih bagus," tambahnya.

(ids/fuf)