Baru Seumur Jagung, Metaverse Sudah Dihantui Isu Pelecehan

Baru Seumur Jagung, Metaverse Sudah Dihantui Isu Pelecehan

Virgina Maulita Putri - detikInet
Minggu, 19 Des 2021 19:30 WIB
Metaverse: Ancaman atau Peluang bagi Umat Manusia?
Baru Seumur Jagung, Metaverse Sudah Dihantui Isu Pelecehan (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Meta, perusahaan induk Facebook, belum lama ini meluncurkan platform virtual reality bernama Horizon Worlds untuk publik. Platform ini merupakan langkah pertama Meta untuk mewujudkan metaverse, tapi peluncurannya dihantui isu pelecehan.

Horizon Worlds merupakan arena virtual yang bisa diakses menggunakan headset VR Quest di mana 20 orang bisa nongkrong online sebagai avatar. Di tempat ini pengguna bisa menonton film, meditasi, hingga membangun objek layaknya di game Minecraft.

Platform ini pertama kali diumumkan pada September 2019 dan sudah memiliki ribuan beta tester. Tapi salah satu beta tester mengaku avatarnya di dunia virtual mengalami pelecehan.

"Pelecehan seksual tidak main-main di internet reguler, tapi berada di VR menambah lapisan lain yang membuatnya menjadi lebih intens," kata pengguna tersebut di grup resmi Horizon di Facebook, seperti dikutip dari Futurism, Minggu (19/12/2021).

"Saya tidak hanya diraba-raba semalam, tapi ada beberapa orang di sana yang mendukung perilaku ini yang membuat saya merasa terasingkan di Plaza," sambungnya.

Dalam wawancara dengan The Verge, VP of Horizon Meta Vivek Sharma menyebut situasi tersebut sangat disayangkan. Setelah Meta meninjau insiden tersebut, mereka mengatakan beta tester tersebut tidak menggunakan fitur keamanan yang ada di Horizon Worlds.

"Itu adalah feedback yang bagus bagi kami karena saya ingin membuat (fitur Safe Zone) jadi lebih mudah dan bisa ditemukan," kata Sharma.

Meta mengatakan pengguna bisa mengaktifkan fitur bernama Safe Zone yang menciptakan gelembung di sekeliling pengguna yang tidak bisa ditembus oleh orang lain jika mereka ingin menjaga jarak.

Tapi ruang pribadi kemungkinan akan menjadi masalah untuk platform virtual seperti Horizon Worlds. Lalu muncul pertanyaan apakah pengguna benar-benar dilecehkan jika hal itu terjadi di ranah virtual.

"Saya rasa orang-orang harus mengerti bahwa pelecehan seksual tidak harus berupa hal fisik," kata profesor di Ohio State University Jesse Fox kepada MIT Technology Review.

"Itu bisa verbal, dan ya, itu bisa menjadi pengalaman virtual juga," imbuhnya.

Lantas siapa yang bertanggung jawab untuk menjamin keamanan pengguna di metaverse? Meta sendiri telah menempatkan moderator di masing-masing ruang virtual, tapi mereka tetap menekankan pengguna untuk mengaktifkan fitur keamanan seperti Safe Zone.

"Kami akan terus meningkatkan UI kami dan untuk memahami lebih baik bagaimana orang-orang menggunakan tools kami sehingga pengguna bisa melaporkan sesuatu dengan mudah," kata juru bicara Meta Kristina Milian.

"Tujuan kami adalah untuk membuat Horizon Worlds aman, dan kami berkomitmen untuk melakukan pekerjaan tersebut," tambahnya.



Simak Video "Setiap Orang Bisa Mencoba Kehidupan Virtual di Toko Meta"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/vmp)