Pakai Instagram buat Bisnis? Ini 3 Format Konten yang Disukai Audiens

Pakai Instagram buat Bisnis? Ini 3 Format Konten yang Disukai Audiens

Erika Dyah - detikInet
Jumat, 06 Agu 2021 15:37 WIB
instagram
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Pemasaran bisnis melalui media digital di Indonesia digadang-gadang menjadi salah satu cara yang bisa diandalkan. Pasalnya, data dari we are social dan hootsuite menunjukkan tingkat penetrasi atau pengguna internet di Indonesia telah mencapai 73% atau setara 200 juta penduduk Indonesia.

Digital Marketing Expert & Founder socialmediamarketer.id, Niko Julius menjelaskan dari jumlah tersebut, 170 juta-nya diketahui merupakan pengguna media sosial. Melihat besarnya angka pengguna media sosial, ia pun menilai adanya peluang yang besar untuk mengembangkan bisnis melalui platform media sosial.

Meski demikian, Niko menjelaskan pentingnya mengenali ragam media sosial di Indonesia yang bisa dimanfaatkan. Menurutnya, berdasarkan data ada 6 platform penting yang bisa dimanfaatkan para pebisnis untuk memasarkan produknya

"Posisi pertama diduduki oleh YouTube, diikuti Instagram, Facebook, Twitter, Linkedin, dan Tiktok. Tapi kalau bisa sedikit saya share insight, dari 6 platform ini user yang daya belinya paling tinggi itu Instagram. Konversi daya beli tertinggi, itu masih diduduki Instagram," ungkap Niko dalam Webinar Trik Bikin Konten Kuliner Jadi Viral yang Bikin Panen Profit yang disiarkan live di detikcom, dikutip Jumat (6/8/2021).

"Itu lah kenapa Instagram menjadi platform yang vital saat kita ingin mengembangkan bisnis terutama meningkatkan penjualan di sana," imbuhnya.

Sebelum menggunakan Instagram untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan penjualan, Niko mengingatkan pentingnya mengenali format konten (content format) yang ada dari platform ini Sebab, format konten dari Instagram memiliki tipenya tersendiri.

Niko menjelaskan ada 3 jenis format konten yang harus dikenali oleh para pebisnis untuk dapat di-post di feed Instagram, yakni foto, carousel (konten yang bisa digeser/swipe), dan video.

Menurutnya, penting sekali bagi para pebisnis untuk mengetahui jenis format konten yang disukai audiens agar bisa menyuguhkan konten yang menarik dan sesuai dengan sasaran. Caranya, dengan membaca insight mengenai engagement konten yang sudah di-post sebelumnya.

"Karena bayangannya seperti ini. Kalau misalnya orang atau audiens tertentu terbiasa makan nasi, kemudian kita kasih dia hanya roti saja, maka dia nggak akan puas. Jadi teman-teman kebayang ya, itu perumpamaannya. Jadi saat dia suka misalnya mengonsumsi video untuk konten yang kita miliki atau kita akan posting, ya kita harus lebih sering posting video. Kalau yang disukai foto, ya kita harus lebih sering foto. Kalau dia lebih suka carousel ya kita posting carousel," terangnya.

Niko menilai dalam pemasaran digital melalui sosial media penting untuk menyesuaikan selera audiens, bukan sekadar mengikuti tren yang ada.

"Itu bakal mempercepat konten teman-teman agar bisa menjangkau lebih banyak orang dan bisa disukai sama orang karena mereka suka jenis konten tertentu. Itu terlihat dari konten format," jelas Niko.

Setelah mengetahui format konten yang lebih disukai audiens, lanjut Niko, penting juga untuk mengetahui waktu yang tepat untuk posting/mengunggah konten. Niko mengatakan di Instagram pebisnis bisa mem-posting konten untuk feed maupun story. Menurutnya, kedua konten ini sebaiknya di-posting setiap hari.

"Minimal, sehari posting 1 feed maksimum 3 dengan jeda waktu. Jadi satu (post) feed dengan yang lain minimal jedanya 4-5 jam. Kenapa? Karena ya itu waktu yang dibutuhkan Instagram. Jadi jangan posting dalam satu jam langsung posting 3, pasti nggak bakal optimal," tandasnya.

Webinar Trik Bikin Konten Kuliner Jadi Viral yang Bikin Panen ProfitWebinar Trik Bikin Konten Kuliner Jadi Viral yang Bikin Panen Profit Foto: Erika Dyah

Niko pun menambahkan para pebisnis harus mengenali target audiens yang disasar untuk menentukan waktu terbaik untuk posting konten. Misalnya, jika audiens adalah pekerja idealnya konten diunggah antara jam 12-1 siang saat istirahat.

"Kalau audiens bukan karyawan, ya harus postingnya di jam yang lain. Misalnya, audiens ibu rumah tangga. Apakah IRT ada jam nasional istirahat? Tentu nggak ada. IRT itu istirahatnya pas anaknya sekolah atau anaknya tidur siang. Ya jam itu bisa posting," terang Niko.

"Jadi harus menyesuaikan saat audiens kita bukan Instagram itu kapan. Saat teman-teman tahu audiens idealnya seperti apa, posting di jam yang dia bakal buka. Itu kata kuncinya," pungkasnya.

Kiat soal pemasaran bisnis di Instagram dari Niko ini disampaikan dalam acara Webinar yang diselenggarakan oleh Kraft Heinz Food Service Institute bekerja sama dengan detikcom pada Kamis (5/8). Untuk gelarannya yang kedua ini, Webinar dari Kraft Heinz Food Institute mengangkat tema Trik Bikin Konten Kuliner Jadi Viral yang Bikin Panen Profit.

(mul/fay)