5 Mitos dan Fakta Soal Ancaman Kecerdasan Buatan

Ancaman AI

5 Mitos dan Fakta Soal Ancaman Kecerdasan Buatan

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 24 Apr 2021 13:05 WIB
Kecerdasan Buatan untuk Diagnosis Medis Lebih Cepat dan Akurat
Mitos dan Fakta soal Ancaman Kecerdasan Buatan. Foto: DW SoftNews
Jakarta -

Dalam beberapa tahun belakangan, artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dengan cepat 'menyerang' kehidupan kita. Mitos-mitos seputar AI juga menyebar dengan cepat. Faktanya seperti apa?

Jika melihat teknologi modern saat ini, dari asisten virtual seperti Siri hingga mobil tanpa sopir, kecerdasan buatan berkembang sangat pesat. Film-film fiksi ilmiah sering menggambarkan AI sebagai robot dengan karakteristik seperti manusia, bisa mencakup apa saja mulai dari algoritma pencarian Google, komputer super Watson IBM, hingga senjata otonom.

Kecerdasan buatan sejauh ini dirancang untuk melakukan tugas khusus, misalnya hanya untuk pengenalan wajah, pencarian internet, atau mengendarai mobil. Namun untuk tujuan jangka panjang, banyak peneliti berupaya menciptakan general AI (AGI atau strong AI).

Sementara AI khusus dapat mengungguli manusia dalam tugas spesifiknya, AGI seperti dikutip dari Future of Life, Sabtu (24/4/2021) akan mengungguli manusia di hampir setiap tugas kognitif.

Selain anggapan bahwa AI akan merebut pekerjaan manusia dan mengambil alih dunia, ada beberapa mitos teratas tentang kecerdasan buatan yang sering dikemukakan manusia.

1. Kehadiran superintelligence di tahun 2100

Mitos: Kehadiran superintelligence tidak akan terhindarkan pada tahun 2100. Atau justru pada tahun 2100 hal itu tidak mungkin terjadi.

Ada sejumlah survei yang menanyakan peneliti AI, kira-kira berapa tahun dari sekarang kita akan memiliki AI dengan tingkat kecerdasan setara manusia dengan kemungkinan setidaknya 50%.

Fakta: Para ahli terkemuka dunia tidak bersepakat bahwa kecerdasan buatan akan menyamai kemampuan manusia. Tapi beberapa peneliti lainnya menebak hal ini bisa terjadi dalam kurun waktu ratusan tahun atau lebih, atau justru terjadi lebih cepat. Tidak ada kesepakatan di antara ilmuwan.

2. Cuma orang-orang kolot yang mencemaskan kecerdasan buatan

Mitos: Kesalahpahaman umum lainnya adalah bahwa satu-satunya orang yang menyimpan kekhawatiran tentang AI dan menganjurkan penelitian keamanan AI adalah orang-orang kolot yang tidak tahu banyak tentang AI.

Fakta: Banyak para peneliti terkemuka di bidang kecerdasan buatan menaruh perhatian penuh pada isu ini.

3. Kecerdasan buatan akan berubah menjadi jahat

Mitos: Pendapat bahwa kecerdasan buatan akan berubah menjadi jahat, ini akan disertai dengan penggambaran robot bertampang jahat yang membawa senjata, dengan narasi bahwa mereka akan bangkit dan membunuh manusia.

Fakta: Para ahli meyakini kecerdasan buatan akan menjadi semakin kompeten, tapi dengan risiko tujuan yang tidak selaras dengan kita. Perhatian utama dari gerakan AI yang menguntungkan bukanlah pada robot tetapi dengan kecerdasan itu sendiri yang tidak memerlukan tubuh robotik, hanya koneksi internet.

4. Kita yang mengendalikan mesin atau mesin yang mengendalikan manusia

Mitos: Artificial intelligence tidak bisa mengendalikan manusia dan tidak punya tujuan.

Fakta: Karena AI berpotensi menjadi lebih cerdas daripada manusia mana pun, kita tidak memiliki cara pasti untuk memprediksi bagaimana perilakunya. Kita tidak dapat menggunakan perkembangan teknologi masa lalu sebagai dasar, karena kita tidak pernah menciptakan apa pun yang memiliki kemampuan, yang disadari atau tidak, mengendalikan kita. Kecerdasan bisa memunculkan kendali. Kecerdasan bisa memiliki tujuan

Contoh terbaik dari apa yang bisa kita hadapi mungkin evolusi kita sendiri. Orang-orang zaman sekarang mengendalikan planet ini, bukan karena kita yang terkuat, tercepat atau terbesar, tapi karena kita yang paling pintar. Jika kita bukan lagi yang paling pintar, apakah kita yakin untuk tetap memegang kendali?

Peradaban kita akan berkembang selama kita memenangkan perlombaan antara kekuatan teknologi yang berkembang dan kebijaksanaan yang kita kelola. Dalam kasus teknologi AI, cara terbaik untuk memenangkan perlombaan itu bukanlah dengan menghalangi yang pertama, tetapi untuk mempercepat yang terakhir, dengan mendukung penelitian tentang keamanan AI.



Simak Video "Singgung Space War, Jokowi Ingin BPPT Jadi Pusat Kecerdasan RI"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)