Mengenal Silicon Valley yang Mau Ditiru Bukit Algoritma

Mengenal Silicon Valley yang Mau Ditiru Bukit Algoritma

Virgina Maulita Putri - detikInet
Minggu, 11 Apr 2021 16:07 WIB
CUPERTINO, CA - APRIL 28:  An aerial view of the new Apple headquarters on April 28, 2017 in Cupertino, California. Apples new 175-acre spaceship campus dubbed
Apple Park, kantor pusat Apple di Silicon Valley Foto: GettyImages
Jakarta -

Proyek Bukit Algoritma di Sukabumi, Jawa Barat digadang akan menjadi pusat teknologi dan riset seperti Silicon Valley di Amerika Serikat. Tapi, apa itu Silicon Valley dan bagaimana daerah ini bisa menjadi markas banyak perusahaan teknologi raksasa seperti sekarang?

Nama Silicon Valley pertama kali digunakan oleh jurnalis Don Loefler dalam artikel berjudul 'Silicon Valley USA' yang diterbitkan di koran Electronic News pada 11 Januari 1971. Tapi sejarahnya sudah dimulai sejak satu abad sebelumnya.

Silicon Valley merupakan sebutan untuk wilayah di Santa Clara Valley yang berada di bagian selatan Bay Area, San Fransisco. Saat ini ada beberapa kota besar di Silicon Valley seperti San Jose, Mountain View, Menlo Park, Cupertino, Palo Alto, dan lain-lain.

Pada akhir abad ke-19, San Fransisco menjadi pusat dari industri telegraf dan radio. San José, salah satu kota besar di Silicon Valley, kemudian menjadi tempat didirikannya salah satu stasiun radio pertama di Amerika Serikat.

Kemudian pada tahun 1933, kawasan ini menjadi pusat pengembangan teknologi militer setelah Angkatan Laut AS membeli bandar udara Moffett Field untuk menambatkan kapal udara USS Macon.

Moffett Field kemudian menjadi pusat industri luar angkasa yang menjadi lokasi kerja banyak ilmuwan dan peneliti. Pada tahun 1939, NASA kemudian membuka Ames Research Center di daerah tersebut.

Silicon Valley mulai berubah seperti daerah yang identik dengan software dan hardware pada tahun 1939, ketika William Hewlett dan Dave Packard mendirikan Hewlett-Packard (HP) di Palo Alto. Awalnya perusahaan ini memproduksi osiloskop, tapi kemudian ikut mengembangkan teknologi radar dan artileri saat Perang Dunia II.

Pada tahun 1940-an, pemenang Nobel Fisika William Shockley menemukan transistor saat bekerja di Bell Labs. Ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri - Shockley Semiconductor Labs - di Mountain View, California dan menjadi perusahaan pertama yang membuat transistor dari silikon.

Shockley mempekerjakan banyak lulusan Stanford University yang memang lokasinya berada di Santa Clara Valley. Pada tahun 1957, Shockley ditinggal delapan pegawainya, yang disebutnya 'Traitorous Eight', dan mereka mendirikan perusahaannya sendiri dalam beberapa dekade berikutnya.

Salah satunya Gordon Moore dan Robert Noyce yang kemudian mendirikan Intel di Santa Clara pada tahun 1968. Anggota 'Traitorous Eight' lainnya juga membantu mendirikan AMD, Nvidia, dan pemodal ventura Kleiner Perkins, seperti dikutip dari Business Insider, Minggu (11/4/2021).

Pada tahun 1969, Stanford Research Institute di Silicon Valley juga menjadi salah satu lokasi proyek ARPANET, proyek riset pemerintah AS yang merupakan cikal bakal internet.

Setahun setelahnya, XEROX mendirikan laboratorium PARC di Palo Alto yang menjadi pusat penemuan banyak teknologi komputasi awal, termasuk ethernet dan graphical user interface (GUI).

Di tahun 1970-an, Silicon Valley makin berkembang setelah menjadi rumah bagi perusahaan seperti Atari dan Oracle. Steve Jobs dan Steve Wozniak juga mendirikan Apple di era yang sama dan kini bermarkas di Cupertino.

Saat internet masih seumur jagung, perusahaan seperti Google, eBay, PayPal dan Yahoo lahir di wilayah ini. Kini setelah internet tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, Silicon Valley turut menjadi rumah bagi Facebook, Twitter, Uber, Tesla dan masih banyak lagi.



Simak Video "Bangunan di Bukit Algoritma Berteknologi Tahan Gempa Ala Jepang"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/vmp)