Rencana Kebijakan Baru WhatsApp Terlanjur Bikin Krisis Kepercayaan

Rencana Kebijakan Baru WhatsApp Terlanjur Bikin Krisis Kepercayaan

Virgina Maulita Putri - detikInet
Selasa, 19 Jan 2021 05:45 WIB
Ilustrasi WhatsApp
Sudah Ditunda, Kebijakan WhatsApp Terlanjur Bikin Krisis Kepercayaan Foto: Photo by Rachit Tank on Unsplash
Jakarta -

Setelah dikritik oleh banyak pihak, WhatsApp akhirnya menunda penerapan kebijakan privasi terbaru. Mereka memberi pengguna waktu hingga 15 Mei 2021 untuk menerima perubahan tersebut, tiga bulan setelah jadwal awal yaitu 8 Februari 2021.

Tapi pengamat memperkirakan penundaan ini tidak akan membendung eksodus pengguna yang pindah ke aplikasi pesaing seperti Signal dan Telegram. Meski WhatsApp sudah meyakinkan pengguna data mereka tidak akan disentuh, kebijakan baru ini sudah terlanjur mengakibatkan krisis kepercayaan.

"Pengguna yang marah karena ini tidak akan ditenangkan," kata Honorary President of Hong Kong Information Technology Federation Francis Fong Po-kiu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (19/1/2021).

"Faktanya tidak banyak isu privasi dengan kebijakan baru ini. Tapi ini telah menjadi masalah kepercayaan. Sama seperti ketika Anda memutuskan bank mana yang akan memegang uang Anda, Anda hanya memilih satu yang disukai," sambungnya.

Saat mengumumkan penundaan implementasi kebijakan barunya, WhatsApp menekankan bahwa update ini fokus pada bagaimana pemilik akun bisnis menggunakan layanan Facebook, seperti fitur belanja dan server yang dihosting oleh Facebook.

Jika pengguna berinteraksi dengan akun bisnis yang memilih menggunakan penyedia hosting di luar WhatsApp, informasi mereka bisa dilihat oleh bisnis dan bisa dimanfaatkan untuk tujuan marketing-nya, termasuk beriklan di Facebook.

Pengguna bisa memilih untuk tidak berinteraksi dengan akun bisnis yang menggunakan layanan pihak ketiga. WhatsApp juga akan memberikan peringatan jika akun bisnis yang akan dihubungi menggunakan layanan hosting di luar Facebook.

Percakapan pengguna dengan keluarga dan temannya tidak terpengaruh oleh update ini karena tetap terlindungi oleh enkripsi end-to-end dan tidak bisa dilihat oleh WhatsApp atau Facebook. Bicara soal enkripsi, WhatsApp dan Signal sama-sama memiliki standar enkripsi yang sama.

Untuk mengatasi krisis kepercayaan ini, ahli IT Wong Ho-wa menyarankan WhatsApp untuk tidak menghapus akun pengguna yang tidak menyetujui kebijakan baru pada tenggat waktu yang sudah ditetapkan.

Ia juga ingin WhatsApp mempertimbangkan untuk memberikan opsi kepada pengguna memilih jenis informasi apa yang mereka setujui untuk dibagikan. Tapi dua kompromi ini mungkin tidak akan cukup untuk menghentikan migrasi pengguna.

"WhatsApp tidak seperti YouTube, yang menciptakan konten. WhatsApp hanya sebuah aplikasi untuk berkomunikasi dengan temanmu. Kalau temanmu menggunakan aplikasi lain, maka lama kelamaan kamu juga akan menggunakannya," jelas Wong.



Simak Video "Jutaan Pengguna WhatsApp Beralih ke Signal dan Telegram"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)