Mengenal Teknologi Seaglider yang Ditemukan di Selayar

Mengenal Teknologi Seaglider yang Ditemukan di Selayar

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 04 Jan 2021 12:44 WIB
seaglider
Foto: Ilustrasi Seaglider
Jakarta -

TNI Angkatan Laut (TNI AL) menyebutkan, benda yang ditemukan dan dilaporkan oleh nelayan di perairan Selayar adalah Seaglider atau drone di air. Apa itu Seaglider dan untuk apa fungsinya?

Dihimpun detikINET dari berbagai sumber, Senin (4/1/2021) Seaglider adalah deep-diving Autonomous Underwater Vehicle (AUV) yang dirancang untuk misi yang berlangsung berbulan-bulan dan mencakup jarak ribuan kilometer. Dalam pengaplikasiannya di bidang militer, seaglider lebih sering disebut sebagai Unmanned Underwater Vehicle (UUV) alias drone nirawak di air.

Awal pengembangan Seaglider

Konsep Seaglider pertama kali dieksplorasi pada awal 1960-an dengan prototipe kendaraan pengantar perenang bernama Concept Whisper.

Pada 1992, Universitas Tokyo melakukan pengujian pada ALBAC, glider drop weight tanpa kontrol daya apung dan hanya satu siklus meluncur. Program SBIR DARPA menerima proposal untuk glider gradien suhu pada tahun 1988.

DARPA selaku badan riset militer Amerika, saat itu mengetahui proyek penelitian serupa yang sedang berlangsung di Uni Soviet. Idenya adalah berupa sebuah pesawat layang dengan mesin apung yang ditenagai oleh penukar panas, diperkenalkan ke komunitas oseanografi oleh Henry Stommel pada tahun 1989. Mereka menamai glider termal tersebut Joshua Slocum, diambil dari sosok yang melakukan pelayaran solo pertama di dunia dengan perahu layar.

Pada tahun 2003, tidak hanya glider bertenaga termal yang berfungsi (Slocum Thermal), Webb Research dan institusi lain telah memperkenalkan glider bertenaga baterai dengan durasi dan efisiensi yang mengesankan, jauh melebihi yang tradisional.

University of Washington, dan iRobot menjadi yang pertama menerima lisensi eksklusif selama lima tahun untuk memproduksi Seaglider bagi konsumen di luar University of Washington pada Juni 2008.

Kemudian pada Mei 2013, Kongsberg Underwater Technology, Inc. mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan negosiasi dengan Pusat Komersialisasi di University of Washington untuk mendapatkan hak eksklusif dalam memproduksi, memasarkan, dan melanjutkan pengembangan teknologi Seaglider.

Fungsi dan cara kerja Seaglider

Seaglider didesain bisa beroperasi pada kedalaman hingga 1.000 meter. Perangkat ini biasa digunakan untuk keperluan survei dan data oseanografi.

Karenanya, Seaglider bekerja mengumpulkan properti fisik lautan dengan mengukur suhu, salinitas, dan kuantitas lainnya, kemudian mengirimkan kembali data dengan menggunakan telemetri satelit global.

UUV Seaglider bisa digunakan untuk industri maupun pertahanan, dan berbagai misi lain untuk ahli kelautan, termasuk Angkatan Laut, lembaga pemerintah, dan organisasi penelitian.

Seaglider berenang di air dengan memanfaatkan perubahan daya apung untuk daya dorong yang digabungkan dengan bentuk hidrodinamik gaya hambat rendah yang stabil.

Penggunaan Seaglider

Seaglider tercatat melakukan berbagai misi, setidaknya ada tiga misi yang paling diingat, yaitu:

  • Mei 2010, Seaglider dikerahkan di Teluk Meksiko untuk membantu memantau dan mengumpulkan data selama insiden tumpahan minyak Horizon Deepwater
  • Di 2013, Angkatan Laut AS menguji Seaglider untuk digunakan di kapal tempur Littoral
  • Pada 2016, Angkatan Laut AS mengerahkan LBS-Glider untuk membantu misi antisubmarine warfare (ASW).


Simak Video "Temuan 'Drone' Bawah Laut di Selayar: Bukan Milik TNI, Punya Siapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)