Facebook Dituding Bikin Dark Web Terbesar di Dunia

Facebook Dituding Bikin Dark Web Terbesar di Dunia

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 23 Okt 2020 18:43 WIB
Ilustrasi Facebook
Ilustrasi. Foto: istimewa
Sydney -

Teknologi penyandian atau enskripsi end to end yang akan diterapkan Facebook pada layanannya memicu kritikan dari pejabat pemerintah. Setelah diimplementasikan di WhatsApp, Facebook rencananya akan membenamkannya pula di Instagram dan Messenger.

Itu sejalan dengan keinginan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, bahwa seluruh layanannya akan bisa dipakai lintas platform dan mengamankan privasi penggunanya. Dengan penyandian, seluruh pesan yang lalu lalang hanya dapat dibaca di perangkat pengirim dan penerima, tidak bisa disadap saat sedang dikirimkan.

Teknologi itu telah dikritik saat diterapkan di WhatsApp di mana intelijen Five Eyes, gabungan dari Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru, Kanada dan Australia, meminta ada akses khusus bagi penegak hukum untuk mengakses pesan dalam rangka investigasi.

Kini, kritikan juga muncul dari Menteri Dalam Negeri Australia, Mike Pezullo. Keinginan Facebook mengamankan semua layanan berarti sama seperti menciptakan dark web besar. Dark web adalah bagian dari website yang tidak dapat diakses secara normal dan biasanya mewadahi para kriminal.

"Kami secara khusus khawatir soal rencana Facebook untuk melakukan enkripsi end to end di seluruh platform mereka untuk menciptakan, sebagai dampaknya, dark web terbesar di dunia," kata Pezullo yang dikutip detikINET dari IB Times, Jumat (23/10/2020).

Pezullo mengatakan para penjahat sudah memanfaatkan saluran-saluran terenkripsi untuk menghindari kejaran aparat. Sebut saja para penjahat eksploitasi anak sehingga jika dibiarkan, tentu akan membahayakan.

"Dark web itu jahat karena semakin sulit untuk mengalahkan anonimitas dan mereka, para penjahat, bisa hilang begitu saja tanpa terpantau. Hampir menuju ke titik di mana kita tidak tahu lagi siapakah mereka," tambah Pezullo.

Pada saat ini, seperti disebutkan, beberapa negara ingin Facebook menyediakan akses 'pintu belakang' pada WhatsApp. "Penegak hukum bertanggung jawab melindungi warga dengan menginvestigasi dan menuntut kaum kriminal dan menjaga mereka-mereka yang rentan," tulis negara-negara tersebut dalam pernyataan mereka.

"Enkripsi end to end yang tidak memungkinkan akses legal pada konten komunikasi dalam situasi apapun berdampak pada tanggung jawab tersebut dan menimbulkan risiko besar bagi keamanan publik," tambah mereka.



Simak Video "Mark Zuckerberg Selancar Pakai Sunscreen Tebal, Netizen: Mirip Joker!"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)