Beda dari Trump, PM Australia Sebut TikTok Tak Berbahaya

Beda dari Trump, PM Australia Sebut TikTok Tak Berbahaya

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 06 Agu 2020 09:23 WIB
Australias Prime Minister Scott Morrison speaks at The Sydney Institute in Sydney, Australia December 15, 2018. AAP Image/Mick Tsikas via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVE. AUSTRALIA OUT. NEW ZEALAND OUT.
Scott Morrison. Foto: AAP Image/Mick Tsikas via REUTERS
Sydney -

TikTok dianggap berbahaya oleh pemerintah Amerika Serikat terkait keamanan data dan hubungan dengan pemerintah China, sehingga presiden Donald Trump sampai mengancam untuk melarangnya. Akan tetapi Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, punya pandangan berbeda.

Morrison menyatakan Australia tak menemukan bukti bahaya TikTok sehingga harus dibatasi. Itu berbeda dari pendapat AS maupun India, yang juga telah melarang aplikasi video pendek tersebut.

"Kami tentu akan tetap mengawasi mereka, namun tidak ada bukti untuk disarankan pada kami pada hari ini bahwa sebuah langkah dibutuhkan," kata Morrison.

Dikutip detikINET dari Reuters, Morrisson membenarkan pemerintahaannya mengamati TikTok sejak bulan lalu seiring langkah yang sama dilakukan oleh AS. Akan tetapi saat ini, kesimpulan mereka berbeda. Posisi TikTok pun bisa dikatakan aman di negara tetangga itu.

Adapun Trump menyebut ia akan mencekal TikTok di AS kecuali bisnis mereka di AS dijual pada pihak lain. Saat ini, Microsoft dipastikan sedang bernegosiasi dengan induk TikTok, ByteDance, untuk melakukan aksi akuisisi.

"Pada saat ini tidak ada sesuatu yang mengindikasikan bahwa hal-hal terkait sekuriti ataupun warga Australia mendapat gangguan," tambah Morrison.

"Namun orang-orang memang harus tahu bahwa mereka terkoneksi dengan China dan mereka harus melatih penilaian mereka sendiri tentang apakah mereka harus berpartisipasi atau tidak," lanjut dia.

Sempat melesat jadi aplikasi favorit banyak orang, TikTok kini terhambat perkembangannya setelah India ataupun AS mengawasi mereka. ByteDance sepertinya tak punya pilihan lain selain menjual operasional TikTok di AS pada perusahaan setempat, kemungkinan besar Microsoft.



Simak Video "TikTok Dilarang di AS, Penggunanya Menjerit"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)