Edan, Limbah Elektronik Selama 2019 Tembus 53,6 Juta Ton

Edan, Limbah Elektronik Selama 2019 Tembus 53,6 Juta Ton

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 03 Jul 2020 15:15 WIB
Limbah Elektronik
Foto: is
Jakarta -

Meningkatnya penggunaan barang elektronik berdampak pada semakin banyaknya jumlah limbah elektronik yang dihasilkan, dan pada 2019 lalu jumlahnya memecahkan rekor terbanyak pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Global E-waste Statistics Partnership (GESP), jumlah limbah elektronik selama 2019 lalu mencapai 53,6 juta ton. Jika dibagi dengan jumlah penduduk di bumi, maka setiap orang menghasilkan limbah elektronik sebanyak 7,3kg.

Limbah elektronik ini terdiri dari ponsel, komputer, perangkat elektronik rumah, dan bermacam perangkat elektronik lain. Hanya 17% dari total limbah elektronik itu yang berhasil didaur ulang, sementara sisanya dibuang ke tempat pembuangan akhir limbah, dibakar, atau dihilangkan dengan berbagai cara.

Padahal, sudah banyak kampanye dan langkah dari perusahaan-perusahaan untuk mengurangi limbah elektronik ini, baik dengan mendaur ulang atau cara lainnya. Namun tetap saja jumlah limbah elektronik tetap meningkat, tepatnya sebesar 21% selama lima tahun terakhir.

"Lonjakan ini adalah permulaan yang terjadi karena peningkatan elektrifikasi yang bisa kita lihat di mana-mana," ujar Ruediger Kuehr, salah satu penulis laporan tersebut, yang juga Sustainable Cycles Programme di United Nations University.

"Semuanya dimulai dari mainan, jika anda lihat apa yang terjadi saat natal, semua datang dengan baterai atau colokan listrik. Hal yang sama juga terjadi di ponsel, televisi, dan komputer," tambahnya.

Tak cuma banyak, limbah-limbah elektronik ini pun mengandung banyak bahan berbahaya. Salah satunya adalah merkuri, yang tergolong sebuah neurotoksin yang menyerang otak dan bisa merusak perkembangan kognitif anak-anak.

Salah satu limbah yang mengandung merkuri adalah jutaan ton monitor datar yang dikirimkan oleh perusahaan pengolah limbah elektronik asal AS bernama Total Reclaim ke Hong Kong. Limbah tersebut membahayakan para pekerja yang bertugas membongkar panel layar tanpa pelatihan dan alat pelindung khusus. Total Reclaim kemudian diputus bersalah dalam sebuah investigasi federal di AS.

Daerah yang paling banyak menghasilkan limbah elektronik, menurut laporan GESP tersebut, adalah Asia dengan jumlah limbah elektronik mencapai 24,9 juta ton. Lalu di posisi ke-2 adalah Amerika dengan 13,1 juta ton, dan Eropa dengan 12 juta ton.

Ke depannya masalah limbah elektronik ini diperkirakan belum akan membaik, dan malah akan semakin buruk. Jumlah sampai elektronik pada 2030 diperkirakan mencapai 74 juta ton.

Terus meningkatnya jumlah limbah elektronik ini disebabkan oleh tingkat konsumsi perangkat elektronik yang terus meningkat dan juga siklus hidup produk elektronik yang semakin singkat, serta opsi perbaikan perangkat elektronik yang semakin kecil, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (3/7/2020).



Simak Video "Duh.. Thailand Diserbu Puluhan Ton Limbah Elektronik"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)