Pandemi Corona, di Chat WhatsApp pun Harus Beretika!

Kolom Telematika

Pandemi Corona, di Chat WhatsApp pun Harus Beretika!

Hariqo Wibawa Satria - detikInet
Senin, 06 Apr 2020 19:05 WIB
Akun chatbot WhatsApp COVID-19 resmi Pemerintah RI.
Pandemi Corona, di Chat WhatsApp pun Harus Beretika! (Foto: detikINET/Adi Fida Rahman)
Jakarta -

Di masa pandemi seperti sekarang, informasi banyak menyebar di berbagai platform, termasuk yang paling mudah adalah di grup WhatsApp dan Telegram. Karena begitu masifnya arus informasi, kadang-kadang kita jadi lupa memperhatikan etika.

Dalam kondisi krisis seperti ini, seringkali di grup WhatsApp justru banyak tersebar informasi yang belum tentu valid dan membuat rasa khawatir meningkat.

Jadi, kita sebagai generasi yang lebih melek media, setidaknya bisa berkontribusi menyebarkan semangat positif, salah satunya dengan memperhatikan etika di WhatsApp saat pandemi COVID-19, dimulai dari diri sendiri.

  1. Empati. Kita tidak tahu apakah di grup chat ada orang dalam pengawasan (ODP), positif atau mereka yang keluarganya wafat karena corona. Sebaiknya kurangi bercanda, periksa chat sebelum mengirim pesan.
  2. Perhatikan sumber konten. Ingat, meninggalnya 300 warga Iran, 30 warga Turki, 5 warga Amerika dan Nigeria, 5 warga Bekasi, akibat salah informasi tentang obat corona. Jangan menyebar konten yang tidak jelas pembuatnya dan sumbernya.
  3. Tidak screenshot percakapan. Untuk hal ini, coba pelajari pasal 26 ayat 1 UU ITE No 19/2016.
  4. Hati-hati dengan nomor asing. Lebih waspada terhadap nomor yang tidak mencantumkan nama, apalagi tanpa foto profil. Segera tanya, telpon. Jika tidak ada respons, keluarkan dari grup.
  5. Tidak menyebar foto, video dan konten lainnya dalam jumlah banyak, kecuali permintaan anggota. Tidak mengirim banyak tautan berita yang isinya sama.
  6. Hindari penggunaan emoticon, emoji dalam hal kematian, kecelakaan, bencana alam atau kabar duka lainnya, baik bagi pengirim pesan maupun yang merespon.
  7. Tidak melecehkan, menghina SARA, membuat fitnah. Tidak menggunakan panggilan kampret, kadrun, cebong, dan lain-lain. Kita bisa dijajah 350 tahun oleh 'corona' kalau tidak bersatu.
  8. Informasi yang benar, jujur, akurat akan mencegah kita meremehkan corona. Langsung ingatkan siapapun penyebar hoax sebelum menyebar jauh.
  9. Sampaikan jika ada informasi penting terkait corona dari situs resmi dan media kredibel, atau kirim langsung ke beberapa anggota grup.
  10. Tidak semua pesan mengenai corona akurat. Cek di mesin pencarian dan media sosial, tanya 3-4 orang orang atau hubungi pengecek fakta di no WhatsApp +62 859-2160-0500 (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia/Mafindo)
  11. Semua bidang ada ahlinya, utamakan menyebar pendapat dari ahli kesehatan masyarakat, ahli epidemiologi, IDI, para dokter, psikiater, perawat, psikolog, media-media yang kredibel serta situs-situs resmi tentang corona.

Semua poin di atas adalah saran. Silakan disesuaikan dengan grup WhatsApp atau Telegram kalian.


*) Hariqo Wibawa Satria adalah Direktur Eksekutif Komunikonten dan penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial.



Simak Video "Naik 687 Kasus, Kasus Covid-19 di RI Jadi 25.216"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)