Tips Pengelolaan Medsos untuk Dokter di Masa Pandemi

Kolom Telematika

Tips Pengelolaan Medsos untuk Dokter di Masa Pandemi

Hariqo Wibawa Satria - detikInet
Sabtu, 04 Apr 2020 07:30 WIB
Doctor with stethoscope and red heart shape in hands on hospital background
Tips Pengelolaan Medsos untuk Dokter di Masa Pandemi. Foto: Getty Images
Jakarta -

Pencarian kata corona meningkat di Indonesia. Puncaknya pada 26 Januari 2020 dan 1 Maret 2020 hingga sekarang berdasarkan data Google Trends. Dokter dan psikolog bergerak cepat dengan menggratiskan layanan. Ratusan nomor ponsel mereka sebar di media sosial (medsos) agar warga tak bingung bahkan keluar rumah dan antre di rumah sakit.

Sebagian kecil nama mereka saya tulis pada artikel berjudul "Apakah Kamu Positif Cyberchondria karena Corona?". Sepanjang 22-27 Maret 2020, media mengabarkan 300 warga Iran meninggal. Mereka mengira methanol dapat menyembuhkan corona. Di Turki. 30 orang meninggal. Kasusnya lebih kurang sama dengan Iran.

Di Amerika dan Nigeria, beberapa warga tewas karena overdosis obat (berdasarkan berita dari berbagai media online). Kita wajib mencegah peristiwa di atas terjadi di Indonesia. Salah satunya dengan memperkuat pengelolaan medsos para dokter yang dari sisi jumlah sangat terbatas.

Diperlukan juga relawan untuk membantu pengelolaan atau menyebar konten para dokter. Sebab dokter punya otoritas menentukan kebenaran informasi tentang kesehatan. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng M Fakih mengatakan, data terakhir dokter yang terdaftar di IDI dan sudah kita cocokkan dengan dewan dokter Indonesia itu ada 168 ribu.

Tapi, itu data dinamis ya, 138 ribu dokter umum, selebihnya sekitar 30 ribu dokter spesialis, berdasarkan pernyataannya yang dikutip dari pemberitaan detikcom (10/12/2019).

Belum ada data, dari jumlah tersebut berapa dokter yang aktif di medsos, medsos apa saja yang digunakan dan seterusnya. Namun yang terpenting adalah, bagaimana agar para dokter ini bisa berkomunikasi secara efektif dengan pasien di masa pandemi.

Berikut ini beberapa saran penggunaan medsos untuk para dokter di masa penanganan corona.

  1. Foto profil di akun media sosial sebaiknya berkostum dokter dengan wajah yang jelas, tidak diblur, dibuat kartun atau tindakan lain yang membuat wajah susah dikenali. Untuk memudahkan pencarian, gunakan satu tagar khusus, misalnya: #DokterHabibie atau #Dokter(nama Anda). Upayakan hanya Anda yang menggunakan tagar tersebut, ingatkan jika ada orang lain yang menggunakannya setelah Anda.
  2. Di biodata, tuliskan identitas lengkap (nama, lulusan, kepakaran), email organisasi, website atau tautan yang menjelaskan profil Anda. Jika kolom profil tidak cukup atau tidak lengkap. Untuk menginformasikan hal lain seperti jadwal aktif akun atau jadwal konsultasi, Anda bisa tuliskan pada postingan kemudian disematkan. Ini tersedia di Twitter dan Facebook.
  3. Samakan nama akun di seluruh media sosial. Jika nama akun sudah digunakan orang lain, maka samakan foto dan identitasnya. Gunakan satu akun media sosial saja ketimbang banyak akun namun tidak dikelola. Sebaiknya prioritaskan di Facebook yang memang penggunanya paling banyak di Indonesia.
  4. Manfaatkan foto profil, cover atau header untuk mensosialisasikan konten prioritas. Untuk header pada fanpage facebook bisa menggunakan poster atau video berdurasi 20 - 90 detik. Lebih singkat makin bagus dengan satu hingga dua pesan kunci. Ukuran video minimal 820 x 312 piksel atau ukuran ideal 820 x 462.
  5. Untuk konten video, cantumkan di dalamnya identitas lengkap Anda, tanggal dan lokasi pembuatan (cukup nama kota). Mengingat selalu ada penelitian dan informasi terbaru dari seluruh dunia yang menyempurnakan atau bahkan membantah penelitian dan informasi sebelumnya.
  6. Untuk konten tulisan, poster dan infografis. Cantumkan juga identitas lengkap dan tanggal pembuatan. Banyak pengguna media sosial meng-copy paste langsung dari Facebook, sehingga pembaca tidak tahu penulisnya. Saran saya untuk Facebook formatnya: judul tulisan, kemudian di bawah judul itu tuliskan nama Anda.
  7. Hati-hati merespons (komentar, menjawab, like, love, retweet, repost, share dan lain-lain). Mulai dan akhiri aktivitas dengan mengecek semua respons Anda di medsos. Pertimbangkan untuk menggunakan asisten, juru bicara (admin) karena Anda tentu sangat sibuk dalam pengabdian melawan corona ini.
  8. Jika Anda diwawancarai pengguna medsos (Blogger, Youtuber, dan lain-lain) maka hasil wawancara harus dikirimkan ke Anda sebelum dipublikasikan. Sebaiknya utamakan wawancara dengan media cetak, radio dan elektronik, karena mereka mempunya susunan redaksi lengkap, serta sistem bertingkat dan ketat.
  9. Gunakan pola 595, maksudnya 5% untuk unggahan pribadi dan 95% untuk pengabdian, atau pola 10-90. Opsi lain, Anda buat dua akun, untuk pribadi dan pengabdian. Bisa juga berdasarkan platform, misalkan Facebook atau Twitter untuk pengabdian, Instagram untuk pribadi.
  10. Sampaikan apa adanya di medsos, tidak melebih-lebihkan diri tanpa dasar dan fakta, tidak mengumumkan hasil penelitian sendiri di medsos sebelum diuji dan diakui secara ilmiah.
  11. Teliti dan empati. Tidak menggunakan emoticon, emoji saat terjadi musibah atau krisis.
  12. Sampaikan jika memang akun dikelola jubir digital (admin). Pilih jubir yang memiliki integritas dan kompetensi, sehingga beberapa salah unggah dan respons tidak terjadi.
  13. Jubir akun atau pengelola akun harus mampu membedakan mana akun asli dan akun palsu. Saat ini jumlah pengguna Instagram di Indonesia lebih kurang 124 juta orang, 25 juta diantaranya adalah akun palsu. Sedangkan jumlah pengguna Twitter di Indonesia 12 juta dan juga banyak akun palsu. Untuk Facebook ada 2,38 miliar penggunanya di dunia, pengguna di Indonesia 120 juta, jumlah akun Facebook palsu di dunia 200 juta dan kebanyakan akun palsu tersebut di Indonesia dan India.
  14. Manfaatkan layanan insight dari berbagai media sosial. Monitor kinerja akun medsos Anda. Minta beberapa orang terpercaya memberikan evaluasi dan rekomendasi.
  15. Hindari berbalas komentar, karena waktu Anda sangat berharga. Sebutkan sumber konten yang Anda sebarkan di medsos, sehingga masyarakat dapat mendalami. Jika memungkinkan, perkuat interaksi dan keterlibatan masyarakat.
  16. Keamanan akun harus maksimum, untuk menghindari pengambilalihan, cloning, pencurian percakapan Anda dengan pasien yang masuk kategori rahasia pribadi. Hati-hati dengan pesan inbox, direct message yang meminta Anda membuka tautan tertentu. Akun Anda adalah senjata yang jika diambil orang jahat bisa membahayakan nyawa orang lain.
  17. Sebaiknya ada satu website rujukan dan aplikasi yang memuat berbagai jawaban terhadap pertanyaan warga. Isinya terus diperbarui. Sehingga dokter tidak harus selalu menjawab pertanyaan warga, namun cukup memberikan tautan tersebut untuk dibuka.
  18. Pahami aturan dan cara menggunakan setiap medsos, UU No Tahun 2008 tentang ITE, UU dan peraturan terkait, norma dan budaya masyarakat serta Kode Etik Kedokteran Indonesia.

Untuk saya dan kita yang awam, hati-hati sekali berpendapat terkait corona dan isu kesehatan lainnya. Buka situs-situs resmi yang terpercaya. Pastikan konten yang kita buat dan kita sebar merujuk pada sumber yang benar. Dukung penuh tenaga medis kita berjuang melawan corona, baik di lapangan maupun di media sosial.

Seluruh yang saya sampaikan di atas adalah saran, semoga bermanfaat. Terima kasih para dokter, perawat, psikolog, siapapun yang bekerja di rumah sakit dan seluruh keluarga Anda.


*) Hariqo Wibawa Satria adalah Direktur Eksekutif Komunikonten dan penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial.



Simak Video "Tambah 3.989, Total Kasus Positif Covid-19 di RI Jadi 244.676"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)