Pilih Bikin Film Sendiri atau Gabung Netflix Cs? Ini Kata Hanung

Pilih Bikin Film Sendiri atau Gabung Netflix Cs? Ini Kata Hanung

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 05 Mar 2020 17:01 WIB
Senyum Samringah Hanung Bramantyo
Hanung Bramantyo. Foto: Noel/detikHOT
Jakarta -

Munculnya layanan media OTT (over the top) seperti Netflix, Hooq, Goplay, Iflix, dan lain sebagainya memberikan wadah baru untuk berkreasi. Tapi kalau ditanya, produksi dan memasarkan sendiri atau bergabung ke salah satu OTT, sebaiknya pilih yang mana?

Hanung Bramantyo, sutradara yang terkenal lewat film seperti 'Ayat-ayat Cinta' dan 'Bumi Manusia', mengatakan semuanya kembali kepada kebutuhan. Hal ini ia ungkapkan di acara Huawei Film Awards, Kamis (5/3/2020), di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta Pusat.

"Kalau OTT di Indonesia sesuai pengalaman saya itu mereka ada kelonggaran misalnya menawarkan 50% IP (intellectual property) atau dia invest tapi kalau rata-rata yang wujudnya uang semua dari mereka itu putus IP-nya," ujarnya Hanung.

Suami dari Zascia Adya Mecca ini mengatakan inilah yang membuat ia sedikit diberatkan olehnya. Kecuali, jika dari pihak OTT yang melemparkan ide dan dana maka ia akan mempertimbangkan hal tersebut.

"Ya sama saja seperti kita menjahitkan baju mereka. Tapi kebanyakan movie maker, mereka kan seniman kan, mereka punya ide sendiri, gagasan sendiri. Biasanya kalau brand-nya sudah besar sharing IP itu susah. Kalau saya pribadi agak males sama itu, lebih baik saya membuat film sendiri, saya jual sendiri, tapi IP punya saya," ungkapnya.

"Saya garis bawahi bukan berarti saya menjelek-jelekkan OTT tersebut tetapi mereka punya hak sendiri, namanya mereka berdagang kan. Tapi banyak orang terbuai dengan Brand A sehingga lupa dari esensi kerjasama itu sendiri bahwa kita adalah kreator, kita punya IP dong at least 50%," cetusnya.

Kembali lagi Hanung menekankan ini terkait dengan urusan kebutuhan, apakah memang mereka merelakan IP sepenuhnya pada OTT atau tetap mencoba melakukan tawar menawar untuk memperjuangkan hak intelektual mereka.

"Ini soal masalah kebutuhan saja, maksudnya mereka bisa membayar besar sekali Rp 20 miliar atau Rp 30 miliar. Itu pilihan, kalau teman-teman mikirnya ya nggak masalah, ya sudah," tutup Hanung.



Simak Video "Pajak Digital Diberlakukan, Ini Tarif Baru Netflix"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fyk)