Cabut dari Google, Herman Balik ke Indonesia Ingin Majukan Talenta Digital

Cabut dari Google, Herman Balik ke Indonesia Ingin Majukan Talenta Digital

Adi Fida Rahman - detikInet
Kamis, 30 Jan 2020 20:45 WIB
Herman Wijaya Vice President of Engineering Tokopedia
Herman Wijaya Vice President of Engineering Tokopedia. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Ada banyak cara untuk menunjukkan rasa cinta pada tanah kelahiran. Herman Wijaya memilih kembali ke Indonesia setelah 20 tahun lebih merantau di luar negeri demi memajukan industri dan talenta digital Tanah Air.

Herman Wijaya saat ini menjabat sebagai Vice President of Engineering Tokopedia. Hampir dua tahun dirinya berkarier di perusahan besutan William Tanuwijaya itu.

Saat ini, dia memimpin ribuan insinyur di Tokopedia. Tapi, siapa sangka dulunya Herman tidak mengenal sama sekali soal komputer apalagi koding.

"Waktu aku lulus SMA, aku tidak kenal komputer, tidak punya internet. Dulu harus ke rumah teman kalau mau internetan," kenang Herman.

Perkenalannya dengan komputer disebutnya hoki. Selepas SMA dia berencana melanjutkan kuliah di Australia. Tapi dia belum memutuskan jurusan yang diambil.

Karena 1997 belum ada 'Mbah Google', bapak dua anak ini mencari informasi tentang jurusan dan universitas di Australia dari handbook yang diberikan pusat informasi pendidikan. Lantaran begitu banyak handbook yang didapat serta halamannya begitu tebal, Herman berinisiatif memilih berdasarkan gelar yang akan didapatnya nanti.

Lucunya, dia memilih gelar yang sekiranya akan bagus disandang sehingga kelak akan terlihat bagus di undangan pernikahannya. Akhirnya, ada dua pilihan jurusan yang jadi kandidatnya, yakni Bachelor of Robotic dan Bachelor Computer Science and Engineering.

"Saya pilih yang kedua karena gelarnya panjang, jadi kesannya pintar," ungkapnya sembari terbahak.

Pada 1998 masuklah Herman di Monash University jurusan Computer Science dan Electrical Engineering tanpa sedikit pun mengerti soal programing. Tapi, hanya butuh waktu enam bulan untuk dirinya langsung jatuh cinta dengan dunia yang baru dimasukinya.

"Programing itu memadukan science dan arts, tidak pernah membosankan karena selalu ada challenge," ujarnya.

Dari Microsoft, Facebook hingga Google

Selepas lulus di 2002, Herman sempat kerja di Australia sebelum akhirnya mendapatkan pinangan dari Microsoft. Memboyong istri yang baru dinikahi, dia pindah ke Redmond, Washington, Amerika Serikat, daerah tempat kantor pusat Microsoft berada.

Herman masuk ke tim Windows. Dia terlibat dalam pengembangan Windows Vista, Windows 7 hingga Windows 10. Yang membanggakan, ada 14 paten atas namanya.

"Mungkin kalau dengar DirecX, jadi inovasi bagaimana grafis bisa lebih cepat, game lebih cepat," sebut Herman.

Sepuluh tahun lamanya dia mengabdikan diri di perusahaan besutan Bill Gates dan Paul Allen itu. Dia kemudian memutuskan cabut lantaran ingin mengembangkan kemampuan lintas platform.

"Saya sudah 10 tahun di sana dan hanya di satu platform. Sementara teman saya sudah mengerti multi platform. Akhirnya memutuskan untuk menantang diri dan belajar platform lain," ujarnya.

Lepas dari Microsoft, Herman berlabuh ke Amazon. Dia kerja untuk pengembangan KindleBook. Di sana dia merasa belajar banyak dalam pengembangan lintas platform, dari Android, iOS, web dan lain.

Setahun di Amazon, dia kemudian pindah ke Oculus. Kala itu, Oculus baru saja dibeli Facebook. Dia jadi saksi bagaimana karyawan yang jumlahnya 50 orang kemudian meningkat jadi 1.000 pasca akusisi.

Setahun kemudian, dia mendapat tantangan baru dari Google. Herman diminta menangani Augmented Reality (AR).

Cabut dari Google, Herman Balik ke Indonesia Ingin Majukan Talenta DigitalFoto: Adi Fida Rahman/detikINET

Pulang ke Indonesia

Dua setengah tahun lalu, muncul keinginan besar dalam benak Herman untuk pulang ke Tanah Air. Pemicunya adalah potensi digital Indonesia.

Dia masih ingat pada 2004 silam, kala dirinya masih kerja di Microsoft, beberapa kali ditanya tentang Indonesia. Pertanyaan yang dilontarkan mungkin bikin sebagian dari kalian yang mendengarnya akan tersulut emosi.

Herman pernah ditanya negara asalnya. Begitu menjawab Indonesia, si penanya bingung. Karena dia tidak tahu, lalu bertanya kembali posisi Indonesia di mananya Bali.

Mendapat pertanyaan itu, Herman pun menjelaskan bahwa Bali bukanlah negara, tapi salah satu daerah di Indonesia. Tidak berhenti di situ, suatu hari dia mendapatkan pertanyaan yang bikin geram.

Si penanya mengatakan Indonesia negara yang eksotik, pastilah Herman lebih bahagia di Amerika Serikat. Lalu ditanya apakah rumah Herman dikelilingi sawah.

"Banyak yang mengira Indonesia itu pedesaan. Padahal mal kita lebih oke dari mal mereka," kata pria alumni SMA Kanisius itu.

Tapi kondisi itu jauh berbeda pada 2014 saat dirinya masuk ke Facebook. Herman tidak perlu mengenalkan lagi Indonesia. Karena negara kita masuk dalam radar utama sebagai next billion users oleh perusahaan milik Mark Zuckerberg itu.

"Dari ga ada yang tahu di 2004, jadi tahu Indonesia di 2014. Bahkan menjadi visi perusahaan. Indonesia menjadi negara keempat yang mengalami growing gila-gilaan," ungkap Herman.

"Timbul pertanyaan kenapa saya (masih) di sana (AS), kenapa saya tidak ikutan membangun ekonomi digital Indonesia," lanjutnya.

Setelah berdiskusi dengan anak dan istrinya, Herman memutuskan pulang kampung ke Indonesia pada 2017. Dia langsung terjun di industri digital Tanah Air.

Herman juga terus membagikan ilmu dan pemikirannya mengenai dunia teknologi melalui publikasi dengan harapan Indonesia terus diperkaya dengan talenta digital terbaik yang memiliki daya saing global. Usahanya ini mengantarkan dirinya masuk dalam 50 Chief Information Officer paling inovatif di ASEAN.

Mau tahu pandangan Herman soal kualitas talenta digital Indonesia saat ini? Ikuti artikel selanjutnya.



Simak Video "Tokopedia Jawab Soal Kebocoran 15 Juta Data Pengguna"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)