Kenapa Mendikbud Nadiem Frustrasi Luar Biasa?

Kolom Telematika

Kenapa Mendikbud Nadiem Frustrasi Luar Biasa?

Hariqo Wibawa Satria - detikInet
Jumat, 17 Jan 2020 20:46 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim. Foto: Andhika/detikcom
Jakarta - "Saya frustrasi luar biasa, negara dengan keindahan yang luar biasa seperti Indonesia, tidak dikenal di luar negeri," kata Nadiem ke beberapa media sepanjang 9-11 Januari 2020.

Sepertinya baru kali ini Nadiem bilang frustrasi tentang Indonesia. Karena biasanya, pria berkacamata ini selalu dikaitkan dengan sifat optimistis, momentum, eksekusi, dan lain-lain.

Tak hanya Nadiem, rasanya kita semua juga frustrasi. Awal 2019, situs Rough Guides menyebut Indonesia sebagai negara terindah ke-enam di dunia. Namun anehnya, Indonesia tidak masuk dalam daftar 'Most Popular Countries by Tourists' sejak tahun 1991-2019 (Data World Tourism Organization UNWTO, diolah akun YouTube: Data is Beautiful).



Sumber lain, selama 38 tahun hingga sekarang, Indonesia tidak pernah masuk dalam 20 negara yang paling banyak dikunjungi warga dunia: World's Top 20 Most Visited Countries by International Tourists (sumber akun YouTube: Animated Stats). Di ASEAN saja, kunjungan turis asing ke Indonesia kalah dengan Thailand, Malaysia, Singapura bahkan Vietnam. Jadi pantas saja Nadiem frustrasi luar biasa.

Bagaimana dengan manusia Indonesia-nya sendiri? Kita juga belum menemukan orang Indonesia dalam Time 100: The Most Influential People of 2019, dan World's 100 Most Influential People in Digital Government yang dikeluarkan apolitical.co.

Rupanya, influencer tidak semata diukur dari jumlah follower dan subscriber di media sosial. Ada hal yang lebih substantif ketimbang sekadar follower dan pamer saldo rekening di media sosial.

Demikian juga dalam 100 Atlet Paling Terkenal di Dunia versi ESPN, tak ada orang kita di dalamnya. Indonesia juga tidak masuk dalam 30 negara yang punya kelebihan dalam soft power atau Soft Power Index 2019. Berbagai pemeringkatan itu pantas dijadikan bahan evaluasi, terlepas dari berbagai kekurangannya.

Perlukah revolusi dalam cara kita mempromosikan Indonesia? Di mana kurangnya konten-konten yang diproduksi pemerintah? Apakah paradigma membuat konten untuk masyarakat perlu diubah menjadi membuat konten bersama masyarakat?

Kerja sama dengan Netflix

Dugaan saya, karena frustrasi luar biasa itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menggandeng Netflix. Menurut Nadiem, tujuan kerja sama ini adalah memajukan perfilman Indonesia. Teknisnya, Netflix melatih para pembuat film Indonesia.

Yang terjadi kemudian, muncul kritikan atas kebijakan ini. Wajar, mengingat Netflix belum memiliki badan hukum di Indonesia. Netflix juga belum pernah membayar pajak sejak kehadirannya di Indonesia.

Dua bulan lalu, Dirjen Pajak Suryo Utomo mengatakan, Indonesia kesulitan mengambil pajak dari perusahaan internasional berbasis digital yang mendapatkan keuntungan di Indonesia seperti Spotify, Netflix, Facebook, Google hingga Twitter.

Dengan demikian terlihat jelas, di antara Kemendikbud dengan Kemkominfo dan Kemenkeu menjadi tidak kompak dalam hal ini. Menkeu Sri Mulyani dan Menkominfo Johnny G Plate bersatu untuk menarik pajak Netflix, sementara Kemendikbud malah langsung menggelar kerja sama dengan Netflix.

Sebenarnya, tujuan ketiga Kementerian ini sama baiknya. Hanya saja, ketiga Kementerian kurang berkomunikasi dan berkoordinasi sehingga cara pandang mereka terhadap tantangan dan tahapan solusi berbeda.

Kita apresiasi Nadiem. Hanya saja, sebaiknya dimusyawarahkan dulu dengan para pegiat film Indonesia, perusahaan media sosial dari Indonesia, Kementerian terkait seperti Kemkominfo, Kemenkeu, dan Kemenpar. Opsinya tidak harus menggandeng Netflix secara kelembagaan, tetapi bisa menghadirkan para sineas-sineas dunia untuk mengajar di Indonesia.

Kesampingkan dulu kegusaran atau frustrasi Anda akan banyaknya film asing masuk ke Indonesia, baik lewat bioskop maupun berbagai layar digital. Yang perlu kita renungkan adalah, mengapa sedikit film Indonesia yang diputar di luar negeri. Di Indonesia heboh banyak girl band, boy band Korea konser besar-besaran. Tapi mengapa belum ada artis Indonesia yang mampu konser besar-besaran di Korea?

Di antara tiga isu utama di internet adalah, keamanan, kreativitas, dan kolaborasi. Tampaknya kita punya masalah besar di kolaborasi atau gotong royong. Ego antar Kementerian, ormas, parpol, organisasi kepemudaan masih kuat. Secara kasat mata, terlihat dari kebijakan para Menteri dan unggahan di akun media sosial Kementerian. Pengarusutamaan kepentingan nasional menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Sebenarnya sudah ada belum sih Roadmap Digital Indonesia? Lalu bagaimana dengan Roadmap Revolusi Industri 4.0 yang diluncurkan Presiden Jokowi tahun 2018 lalu? Apa kabar Roadmap Digital Diplomacy yang diprakarsai Kemenlu, sudah sampai halaman berapa?

Potensi Indonesia sangat besar, keberagaman suku, agama, ras, warna kulit yang kita miliki belum maksimal menjadi kekuatan besar. Justru kita sekarang sering ribut untuk hal-hal yang kurang substansial di media sosial, WhatsApp dan sekretariat organisasi kita masing-masing.

Daya tarik Indonesia dari alam dan budayanya melimpah ruah, jika ditambah daya tarik dan pengaruh manusianya, maka Indonesia pasti semakin disegani. Semua orang bisa menjadi influencer lewat jalur jurnalistik, media sosial, bisnis, olahraga, film, musik, dan lain-lain.

Soft diplomasi yang dilakukan influencer global dari Prancis, Inggris, Amerika, Korea, China, Turki, dan Rusia misalnya, sangat terasa di Indonesia. Mereka hadir dalam musik, film, olahraga, konten media sosial, dan lobi-lobi langsung kepada para pengambil kebijakan di Indonesia.



Mari yakinkan setiap anak Indonesia, bahwa mereka terlahir untuk memberi manfaat, manfaat, dan manfaat bagi dunia. Bukan terlahir untuk mencari follower di medsos, namun lupa berprestasi di dunia nyata.

Doktrinnya bukan semata bela negara, tetapi bela dunia dari ketidakadilan global, kerusakan lingkungan dan ketidaktertiban lainnya. Doktrin itu yang hidup di kepala Greta Thunberg, sehingga di usia 17 tahun ia sudah menjadi salah satu manusia paling berpengaruh di dunia.


*) Hariqo Wibawa Satria adalah pengamat Media Sosial dari Komunikonten dan CEO Global Influencer School. Dia juga penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial.

Simak Video "Menteri Nadiem Terbitkan Aturan Keringanan Uang Kuliah Mahasiswa"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)