Rabu, 15 Jan 2020 06:06 WIB

Cerita Lulusan Apple Academy yang Ciptakan Aplikasi untuk Tuna Rungu

Virgina Maulita Putri - detikInet
Presentasi tim Hearo. Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET
Jakarta - Sebanyak 194 siswa Apple Developer Academy merayakan kelulusannya setelah proses pelatihan selama 10 bulan. Pelatihan apa saja sih yang mereka terima?

Aisyah Shadrina dan Kamilia Latifah dari tim Hearo yang mengembangkan aplikasi untuk komunikasi tuna rungu pun membagikan ceritanya. Mereka mengatakan, selama 10 bulan pelatihan mereka mendapat banyak pengetahuan, terutama dari segi desain, programming dan bisnis.

"Kita juga ada mini challenge dan nano challenge. Tiap challenge itu ada kelas-kelas lagi fokusnya ke mana," kata Aisyah saat ditemui seusai acara kelulusan Apple Developer Academy di BSD City, Tangerang, Selasa (14/1/2020).



"Mau ke desain, programming atau bisnis itu mereka bisa milih ke mana, jadi tiap orang beda-beda pengalamannya di sini," sambungnya.

Tidak hanya itu, mereka juga mendapat pelatihan soft skill seperti berbicara di depan umum. Aisyah mengaku pelatihan ini paling berguna untuknya karena ia selalu kesulitan berbicara di depan umum.

Sementara itu, Kamilia mengaku bahwa dengan mengikuti Apple Developer Academy bisa mendorongnya menggapai mimpi sebagai programmer. Padahal sebelumnya, ia tidak memiliki latar belakang yang berkaitan dengan IT.

"Sebelumnya background saya sekretaris, saya tiga tahun jadi sekretaris. Benar-benar baru belajar programming di sini dan serius banget," jelas Kamilia di kesempatan yang sama.

Hearo sendiri adalah aplikasi yang memudahkan komunitas yang mengalami kesulitan pendengaran untuk berkomunikasi tanpa batas. Untuk mengembangkan aplikasi ini, tim Hearo bekerja sama dengan komunitas tuna rungu untuk menyediakan model bahasa isyarat yang nantinya dipelajari oleh machine learning.

Cerita Lulusan Apple Academy yang Ciptakan Aplikasi untuk Tuna RunguAisyah Shadrina dan Kamilia Latifah. Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET

Selain machine learning, aplikasi ini juga memanfaatkan object detection. Aplikasi ini sendiri awalnya hadir karena pengalaman pribadi salah satu anggota tim Hearo.

"Hearo sendiri berawal dari case di mana salah satu member kami lagi volunteer dan merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan teman tuli. Jadi dari situ kami langsung mikir gimana caranya supaya komunikasinya lebih lancar antara teman tuli dan teman dengar begitu pula sebaliknya," jelas Kamilia.

Saat ini, aplikasi Hearo sudah tersedia di App Store. Sejauh ini Aisyah dan Kamilia menerima banyak respon positif dari pengguna dan komunitas yang mendorong mereka untuk terus ingin mengembangkan aplikasi ini seusai pelatihan di Apple Developer Academy.



"Kita tetap mau ngelanjutin Hearo sih. Karena kita lihat feedback dari user, dari teman-teman tuli itu positif banget, jadi itu mendorong kita untuk lanjut dan mengembangkan apps yang lebih baik lagi," ujar Aisyah.

"Karena sekarang kita kan kosakatanya masih terbatas, kita ingin nambah vocab-nya lagi supaya bisa dipakai untuk sehari-hari," pungkasnya.

Simak Video "Harapan Bekraf: RUU Ekonomi Kreatif Sah, Developer Game Berlimpah"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)