IndoXXI Tutup, Situs Sejenis Bakal Tetap Eksis

IndoXXI Tutup, Situs Sejenis Bakal Tetap Eksis

Adi Fida Rahman - detikInet
Jumat, 27 Des 2019 20:37 WIB
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta - IndoXXI akan tutup pada 1 Januari 2020. Pun begitu, situs-situs sejenis diyakini tetap eksis.

Hal ini dikatakan oleh sineas sekaligus CEO Rombak Media Dennis Adhiswara. Menurutnya, penutupan IndoXXI itu akan dilanjutkan dengan dibukanya situs serupa dengan nama dan alamat yang berbeda.

Belum lagi peminat situs streaming bajakan masih banyak. Entah mereka memang tidak mau mengeluarkan uang untuk berlangganan maupun memang kesulitan akses.

"Mereka yang mau nonton konten legal tapi akses terhalang, contohnya di kotanya tidak ada bioskop, mau nonton Netflix tapi diblokir, Disney+ belum tersedia. Mereka terpaksa pakai jalur bajakan. Mereka inilah yang berpotensi bisa pindah ke situs legal bila dipermudah aksesnya," kata Dennis saat dihubungi detikINET.



Lanjut diungkapnya, banyak pengguna belum teredukasi dengan baik bahwa situs illegal bisa mencuri segala macam data pribadi si pengguna, mulai dari password email hingga nomor kartu kredit.

"Selama mereka belum teredukasi dengan baik, maka jangan kaget kalau media sosial mereka rentan di-hack. Dan itu hanya salah satu dari sekian risiko lainnya seperti virus, malware, hingga komputer pengguna melambat gara-gara dijadikan mining cryptocurrency oleh si pembajak," terang pria yang dikenal sebagai Mamet di film Ada Apa Dengan Cinta ini.

Padahal, saat ini berlangganan layanan streaming legal lumayan terjangkau. Misalnya, berlangganan Netflix bisa mulai dari Rp 49 ribu per akun. Berlangganan HBO GO mulai harga Rp 60 ribu termasuk 5 GB data.

"Bila dibandingkan dengan harga tiket bioskop Rp 40 ribu per sekali nonton, jelas lebih murah. Kalau mau hemat data untuk nonton, bisa ke wifi hotspot lalu download di masing-masing aplikasi," terang Dennis.

IndoXXI Tutup, Situs Sejenis Bakal Tetap EksisCEO Rombak Media Dennis Adhiswara. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET



Masalah Pelik

Lebih dari 1.000 lebih situs konten bajakan diblokir Kominfo. Tapi patah tumbuh hilang berganti, banyak situs baru sejenis bermunculan.

Melihat itu, Dennis berpendapat di negara manapun, tak terkecuali Indonesia, selalu kalah langkah dengan pembajakan. Ada tiga masalah yang dilihatnya.

Banyak orang berpikir menangkal situs streaming ilegal merupakan pekerjaan rumah Kementerian Kominfo semata. Dan sejauh ini, akses menonton film legal masih tidak dinikmati banyak orang, terutama luar pulau Jawa. Dan ada mindset Robbin Hood Syndrome di pengguna situs ilegal.

"Mereka berpikir bahwa sah-sah saja mencuri nonton film karena para produsen film jauh lebih kaya daripada para penonton," ujar Dennis.

Pria berkacamata ini menyarankan pemerintah tetap melakukan pemblokiran, seperti halnya China lewat kampanye Net Sword Action 2018-nya.

Pemerintah juga perlu mendorong dan fasilitasi film untuk lebih banyak diproduksi di daerah luar Jabodetabek dan Pulau Jawa. Melibatkan sebanyak mungkin masyarakat lokal untuk ikut berkontribusi dalam produksi tersebut.

"Masyarakat lokal harus bisa merasakan manfaat ekonomi dari sebuah produksi film di daerahnya lewat penyewaan tempat, alat, usaha catering, wisata dan lain-lain. Sehingga kelak penonton paham bahwa dengan menonton film legal, berarti dia mendukung semua yang terlibat di produksi film, termasuk masyarakat lokal juga," papar Dennis.

Meninjau ulang pelajaran agama dan budi pekerti di sekolah juga turut disarankannya.

"Menonton dan mengedarkan bajakan adalah pencurian atas ciptaan kreatif manusia lainnya. Kalau selama ini pelajaran agama dan budi pekerti di sekolah masih nggak mampu mencegah seseorang untuk mencuri secara signifikan, berarti harus ditinjau ulang efektivitasnya," pungkas Dennis.

Simak Video "Soal Netflix Diblokir Telkom, Ini Kata Menkominfo Johnny"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)