Jumat, 22 Nov 2019 16:47 WIB

Kolom Telematika

Konsep Ibu Kota Negara Cerdas Perlu Persiapan Matang

Prof. Suhono Harso Supangkat - detikInet
Ilustrasi. Foto: istimewa Ilustrasi. Foto: istimewa
Jakarta - Awal minggu ini mulai bergulir kembali pemikiran konsep pemindahan Ibu Kota negara. Kalau dulu terkait perlu tidaknya pindah dan pemilihan lokasi, sekarang Menteri /Ka Bappenas Suharso Monoarfa, yang baru dilantik belum satu bulan, menggulirkan konsep yang lebih rinci terkait kecerdasan sistem Pemerintahan Cerdas (Smart Government), Kantor Cerdas (Smart Office) hingga Rumah Kantor, yang akan mendukung Ibu Kota Negara.

Cerdas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya); tajam pikiran. Makna diatas umumnya adalah untuk manusia, namun bisa dikembangkan untuk kota, kantor, desa hingga pemerintahan.

Kecerdasan pemerintahan bisa diartikan pemerintahan yang memahami dan mengerti apa tugas pokoknya sehingga tujuan negara bisa tercapai dengan baik. Kecepatan bertindak (Acting) melalui proses orientasi dan pembelajaran (understanding) yang cepat dari data yang akurat (sensing).


Seperti diketahui, jika menggunakan pemikiran lama, semua ASN pusat yang berjumlah sekitar 260.000 orang, jika dipindahkan semua, setiap KK ada 4 anggota keluarga, maka Ibu Kota Baru harus menyiapkan perumahan dan perkotaan untuk sekitar 1.100.000 penduduk.

Timbul pemikiran baru apakah perlu semua ASN pusat harus pindah ke Ibu Kota Negara baru? Apakah mungkin bisa didistribusikan ke berbagai pulau? Sehingga pemerintahan bisa ditempatkan di beberapa tempat/pulau di Nusantara.

Dalam konteks ini, perlu pemikiran cerdas untuk perencanaan maupun pembangunan Ibu Kota Negara. Kecerdasan tidak hanya diartikan sebagai hadirnya teknologi saja tetapi faktor lain juga berpengaruh.

Sementara itu perkembangan teknologi di perjalanan Revolusi Industri 4.0 telah mengubah sebagian gaya hidup masyarakat dari terpusat menjadi terdistribusi, dari hal fisik ke virtual, dari segmented ke connected dan dari terkendala waktu menjadi tak terkendala waktu.

Semua itu karena hadirnya disrupsi hadirnya Cloud Computing, Internet of Things, Artificial Intelligence, Big Data, Jaringan Pita Lebar, Tol Langit hingga co creation.

Teknologi yang dihasilkan saat ini memungkinkan untuk melakukan pekerjaan perkantoran dan pemerintahan di mana saja, kapan saja secara terintegrasi dan kolaboratif.

Pemikiran Ka Bappenas cukup fundamental memang dan perlu dikembangkan turunan turunannya . Termasuk diantaranya pemikiran ASN bisa berkantor di rumah maupun di " Co Working Space" (CWS). Hal ini tentu juga akan mengurangi kemacetan di Ibu Kota (Negara).

Namun demikian tentu perlu ada kajian dan persiapan yang lebih matang, agar dampak terhadap kinerja pemerintahan lebih baik lagi. Termasuk aspek proses kerja, keamanan sistem pemerintahan hingga keandalan jaringan pemerintahan.

Transformasi pemerintahan seperti transformasi lainnya memerlukan konsiderasi 4 hal yaitu people proses teknologi dan data. Persiapan manusia, tata kelola pemerintahan, teknologi yang tepat hingga penggunaan data yg akurat perlu inovasi yang berkelanjutan.


Konsep Ibu Kota Negara Cerdas bisa menjadi penghela perubahan Indonesia ke depan. Pemahaman kebutuhan penduduk dan karakternya perlu dipahami dengan baik.

Generasi Z yang lahir setelah tahun 1995, pada tahun 2045 akan menjadi tulang punggung Negara RI. Generasi Z , yang lahir dengan ekosistem berbasis TIK, mempunyai karakter yang beda dengan generasi sebelumnya, perlu disiapkan dengan lebih matang.

Semoga ide baik ini bisa memberikan kontribusi kepada cita cita pendiri bangsa dari pintu gerbang Kemerdekaan menuju lebih dalam lagi Kesejahteraan yang adil dan beradab.

*) penulis adalah Ketua Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas ITB

Simak Video "Wajah Ibu Kota Baru di Benak Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)