Senin, 18 Nov 2019 08:34 WIB

Kecanduan Belanja Online Disebut Tanda Gangguan Mental

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: iStock Ilustrasi. Foto: iStock
Jakarta - Belanja online makin ngetren belakangan ini, ditunjang maraknya toko e-commerce. Tapi jika sudah dalam taraf kecanduan tentu tidak baik, bahkan bisa jadi merupakan gangguan mental.

Setidaknya itulah hasil studai dari Hannover Medical School di Jerman. Mereka menilai kecanduan belanja online yang disebut buying shopping dissorder (BSD) harus mendapatkan pengakuan dan klasifikasi tersendiri.

"Sungguh sekarang waktunya mengakui BSD sebagai kondisi kesehatan mental terpisah dan untuk mengakumulasi pengetahuan tentangnya," kata pemimpin studi ini, Dr Astrid Muller.


Dikutip detikINET dari Mirror, menurutnya BSD ditandai dengan 'keasyikan' ekstrim dalam berbelanja dan juga keinginan untuk memiliki barang-barang tertentu. Lebih mencemaskan, orang dengan kondisi itu cenderung membeli lebih dari kemampuannya.

Dalam jangka panjang, dapat memicu stres, masalah keluarga, sampai penimbunan barang. Dalam studi ini, periset menganalisis data dari studi lain yang melaporkan ada 122 pasien mencari perawatan akibat BSD.

Mereka berharap penemuan ini akan memicu pakar kesehatan mental untuk memahami BSD lebih dalam. Terlebih saat ini adalah eranya belanja melalui internet.

"Kami harap hal ini akan memicu penelitian lagi di masa depan untuk mencari konsep perawatan yang spesifik," imbuh Dr Muller.



Simak Video "'Singles Day', Perayaan untuk Jomblo yang Munculkan Diskon Belanja Online 11.11"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)