Sabtu, 16 Nov 2019 13:20 WIB

Seputar Keputusan Gojek yang Ubah Masyarakat Indonesia

Aditya Mardiastuti - detikInet
Group Head of Online Transport Services Gojek, Raditya Wibowo (Aditya Mardiastuti/detikcom) Group Head of Online Transport Services Gojek, Raditya Wibowo (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Badung - Gojek menjadi startup sukses yang kini menjadi decacorn. Dalam NextICorn International Summit 2019 di Bali mereka bicara soal keputusan sulit yang akhirnya mengubah masyarakat Indonesia.

Mulanya Group Head of Online Transport Services Gojek, Raditya Wibowo bercerita proses Gojek dari usaha kantoran di rumah dua lantai dan kini telah beroperasi di 207 kota di lima negara di Asia Tenggara. Dari tiga layanan di aplikasi kini menjadi beragam pilihan jasa yang ditawarkan.

"Masuk Gojek Juni 2015, 6 bulan setelah aplikasinya launching. Dulu kantornya masih rumah lantai dua di Jl Ciasem. Call center di dalam, belum ada cabang, baru mulai malah cabang di Bali. Driver nongkrong di taman, pegawainya 150-200 orang," kata Dito, sapaan karibnya, saat ditemui di kawasan Jimbaran, Badung, Bali, Sabtu (16/11/2019).

Dito mengatakan awal Gojek mulai berdiri masih serba manual. Saat itu customer yang membutuhkan jasa ojek masih harus memesan melalui telepon ke call center Gojek.
"Nah, Januari ada tiga servis itu. Ternyata semua orang pakai shopping kebanyakan pesen makanan. Jadi mereka masukin warung kaki lima atau tempat sate yang mereka suka. Dari situ muncul ide bikin Gofood, jadi kita bikin Gobox, Goclean sebelum Gocar, Gopay juga keluar di awal-awal itu," sambungnya.

Seiring berjalannya waktu pihaknya terus menganalisa kebutuhan pelanggan. Hingga akhirnya layanan di aplikasi Gojek pun bertambah banyak, sistem aplikasi pun diperbaharui untuk memudahkan pelanggan.

"2015-2018 kita tambah-tambah produk terus sampai tombolnya banyak. Tapi sebetulnya mekanisme kita yang cari driver deket ke customer itu mulai nggak kuat melayani permintaan saat itu," terang Dito.

Di bulan Ramadan, terjadi penumpukan pemesanan makanan sore hari jelang buka puasa. Gojek awalnya kewalahan, marketplace pun tidak berjalan semestinya, driver pilih-pilih orderan. Dari situ lahir sistem performa driver ojek online, dimana driver pun mengejar prestasi kerja.
"Makanya kita bikin juga sistem performa awalnya nggak populer di driver. Tapi kita percaya ujung-ujungnya memberi customer experience lebih bagus dan ujung-ujungnya buat driver juga. Akhirnya mereka bisa menyadari itu. Dulu sampai heboh di Jakarta, konvoi, dan nemenin Nadiem ke Polda," kenangnya sambil tertawa.

"Jadi kita membuat keputusan sulit yang berdasarkan prinsip pokoknya buat customer deh, kan nanti ujung-ujungnya kalau sistemnya lebih bagus buat driver juga. Si performa ini syarat untuk dapat bonusnya, itu tujuannya supaya customer menunggunya tidak lama," papar Dito.

Tak cuma itu, Dito juga bercerita bagaimana pertimbangannya membuat harga ramai. Dia menyadari saat musim hujan perlu usaha lebih bagi para driver untuk menjemput atau menerima pesanan dari pelanggan dalam kondisi hujan. Harga lebih mahal dalam kondisi sulit, dirasakan adil bagi kedua pihak.

"Jadi poin 2015-2016 akhir masa-masa sempat kebentur kayak atap di sistem kita. Ada yang menghambat untuk tambah terus. Akhirnya kita menjebol atap itu pelan-pelan, cobain-cobain," ucap dia.


Seputar Keputusan Gojek yang Ubah Masyarakat Indonesia


Simak Video "Tercemar Limbah Sablon, Sungai Badung Berubah Jadi Merah Darah"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/fay)