Jumat, 27 Sep 2019 20:45 WIB

Peran Medsos dan Milenial dalam Aksi Mahasiswa

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Sugeng Harianto Foto: Sugeng Harianto
Jakarta - Media sosial (medsos) dinilai berperan penting dalam aksi mahasiswa dan pelajar dalam beberapa hari kemarin. Hal ini tak terlepas dari kedekatan mereka dengan layanan digital.

Direktur Komunikasi Indonesia Indicator Rustika Herlambang menjelaskan, medsos merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi milenial. Dalam sebuah survei yang pernah dilakukan bahwa 94,4% milenial Indonesia telah terkoneksi dengan medsos.

"Mereka menjadikan medsos sebagai salah satu referensi informasi mereka. Maka bisa dipahami mengapa aksi kemarin terbilang sukses mengajak milenial turun ke jalan," tuturnya, Kamis (26/9/2019).



Meskipun, kata Rustika, ada juga yang sekedar ikut kumpul, duduk-duduk, dan tidak ikut dalam demo. Alasan kebersamaan, ikut dalam tren, pingin eksis, kemudian turut jadi agen perubahan juga menjadi salah daya dorongnya.

Dalam data analisa yang dimiliki Indonesia Indicator di Twitter sejak tanggal 22 September sampai 26 September, aksi mahasiswa mendapat respon dari dua kubu, yaitu kelompok mahasiswa dan kelompok kontra pemerintahan Jokowi. Jumlah netizen yang merespon mulai dari sebanyak 56 ribu - 112 ribu dalam 12 jam.

Percakapan aksi mahasiswa mendapatkan respons dari kalangan netizen milenial hingga sempat mencapai 91%.

"Hal ini terjadi karena karakter milenial yang suka mengikuti tren, ingin menjadi bagian perubahan, dan suka mengeksplorasi hal-hal yang baru. Beraktivitas di luar bersama-sama merupakan satu hal yang menarik, selain untuk menyuarakan apa yang menjadi pemikiran mereka," tuturnya.


Adapun sejauh ini percakapan mengenai kelompok percakapan aksi mahasiswa tersebut relatif organik, mengomentari berbagai hal dalam aksi, mengungkapkan kekecewaan pada DPR, dan kemarin mulai mencuitkan berbagai postingan kekerasan yang dilakukan oleh aparat.

"Akun manusia sebesar 142.377 (95,7%) dan akun robot 6.367 (4,3%). Akun manusia ini termasuk buzzer," ucapnya.

Indonesia Indicator melihat untuk sebaran gender, akun perempuan 43,7% dan akun laki-laki 56,3%. Menariknya perempuan terbilang cukup aktif dalam hal ini, dibandingkan dengan isu-isu politik lainnya. Perempuan usia 18-25 tahun lebih aktif (49,3%). Perempuan di atas usia 35 tahun hanya 6,2%.

Sebanyak 87,5% netizen yang merespons adalah kelompok milenial. Hanya terdapat 8,4% mereka yg berusia di atas 35 tahun. Kelompok usia 18-25 tahun memiliki proporsi terbanyak, yakni 45,4%.



Rustika mengatakan kelompok aksi mahasiswa kemudian 'terbelah' saat ada kelompok aksi pelajar (STM) yang juga melakukan demo di depan DPR.

"Kelompok kontra pemerintah terlihat turut aktif mendukung kelompok aksi mahasiswa. Meski demikian, terdapat perbedaan wacana, di mana kelompok ini lebih banyak menurunkan pernyataan yang menyalahkan Jokowi, memasifkan video kekerasan aparat, serta terus-menerus membuat tagar #turunkanJokowi dan tagar sejenisnya. Akun ini jumlahnya sedikit, namun cuitannya sangat aktif," pungkasnya.

Beberapa tagar yang berkembang #HidupMahasiswa (1.321k kicauan), #STMmelawan (330k kicauan), #STMBergerak (79k kicauan), #stmmahasiswabersatu (35k kicauan), #AyoSemuaBergerak (153k kicauan), #iniMAHASISWA (14k kicauan), #DenniSiregarDicariAnakSTM (11k kicauan) dan #SurabayaMenggugat (11k kicauan), #TurunkanJokowi (141k kicauan) dan #KRITISIJANGANprovokasi (11k kicauan).

Simak Video "Cinta Laura Ajak Fans Lebih Dekat dengan Kesehariannya"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)