Minggu, 18 Agu 2019 20:10 WIB

8 CEO Startup Ini Pernah Melesat Lalu Melarat

Rachmatunnisa - detikInet
Halaman 1 dari 2
Ilustrasi startup. Foto: Oli Scarff/Getty Images Ilustrasi startup. Foto: Oli Scarff/Getty Images
Jakarta - Sembilan dari 10 startup diprediksi gagal, dan sebagian besar karena mereka kehabisan uang. Kegagalan ini tak hanya membuat sebuah startup kehilangan jutaan dolar, tetapi juga pendiri dan CEO mereka.

Ketika sebuah perusahaan bangkrut, uang dan kekayaan bersih CEO pun biasanya ikut mengalami pukulan drastis. Tapi sisi baiknya, Silicon Valley bukan tempat para entepreneur terpuruk untuk waktu yang lama. Banyak di antara mereka yang kemudian bangkit setelah badai mendera.

Ya, di balik banyak kisah sukses yang sering kita dengar, ada juga kegagalan di Silicon Valley. Dalam kasus lain, kegagalan dapat berarti pertarungan sengketa hukum dengan pihak pengadilan selama bertahun-tahun yang bisa menguras energi dan tentu saja materi. Namun dari semua itu, selalu ada pelajaran. Berikut ini adalah 8 CEO yang sempat melesat.

8 CEO yang Dulu Melesat Namun Kemudian MelaratFoto: Business Insider


1. Elizabeth Holmes

Pendiri dan mantan CEO perusahaan uji darah Theranos ini bisa mengamankan hampir USD 1 miliar pendanaan, terutama dari investor seperti Rupert Murdoch dan Sekretaris Pendidikan AS Betsy DeVos. Sayangnya, teknologi milik perusahaannya kemudian dipertanyakan dan tudingan penipuan terhadap Holmes memaksa Theranos tutup.

Theranos didirikan pada 2003 ketika Holmes berusia 19 tahun dan masih berkuliah di Stanford University. Pada 2015, Theranos memiliki valuasi USD 9 miliar.

Setahun kemudian, reporter Wall Street Journal John Carreyrou menerbitkan sebuah laporan yang merinci bagaimana Theranos beroperasi pada kapasitas terbatas dan telah merilis hasil tes yang dituding palsu dan tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk pasien. Pada akhir 2017, Theranos mulai tenggelam. Perusahaan ini tidak punya uang dan anggota dewannya pergi.

September lalu, Theranos memecat karyawannya dan Holmes menghadapi tuduhan penipuan. Perusahaan tutup hanya beberapa hari setelahnya. Holmes, yang pernah ditaksir Forbes memiliki kekayaan bersih USD 4,5 miliar, kini memiliki kekayaan bersih diperkirakan USD 0 alias tidak punya apa-apa.

8 CEO yang Dulu Melesat Namun Kemudian MelaratFoto: Business Insider


2. Antoine Balaresque dan Henry Bradlow

Antoine Balaresque dan Henry Bradlow mendirikan startup drone bernama Lily Robotics pada 2013. Pada 2015, Lily Robotics meraup pendanaan lebih dari USD 15 juta dan hampir USD 35 juta untuk pra-penjualan berkat video viral yang memperlihatkan aksi drone mereka.

Dua tahun kemudian, Lily Robotics ditutup, mengajukan kebangkrutan, dan digerebek oleh agen federal. Padahal di masa kejayaannya, Lily Robotics menarik minat para investor seperti si kembar Winklevoss (yang terkenal menggugat Mark Zuckerberg atas hak cipta Facebook) dan perusahaan-perusahaan seperti Spark Capital (dikenal karena pendanaan Twitter dan Slack).

Lalu di mana drone yang kabarnya banyak dicari orang itu? Kabarnya, drone tersebut tidak pernah ada. Salah seorang pendirinya, Balaresque menulis dalam email yang diperoleh oleh Jaksa Distrik San Francisco bahwa rekaman video viral yang disebut dari drone Lily itu rupanya menggunakan GoPro yang dipasang pada drone DJI Inspire senilai USD 2.000.

Dan menurut dokumen kepailitan, Lily Robotics bakar duit sekitar USD 1 juta per bulan, sementara para konsumen yang sudah melakukan pemesanan menunggu dengan cemas drone yang mereka inginkan.

Pada 2017. Lily Robotics berencana mengembalikan uang kepada pelanggan, tetapi tidak jelas apakah ada yang telah menerima pengembalian dana tersebut.

8 CEO yang Dulu Melesat Namun Kemudian MelaratFoto: Business Insider


3. Sunil Paul

Di masa jayanya, sekitar tahun 2011, Sidecar dianggap sebagai perintis ride sharing, bahkan mengalahkan Uber dan Lyft. Namun, dengan dana tak lebih dari USD 35 juta, sang pendiri sekaligus mantan CEO Sunil Paul mengatakan, perusahaannya tak dapat bersaing dengan Uber yang mengumpulkan lebih dari USD 6,6 miliar.

Sidecar akhirnya menutup operasinya pada 2015, namun untungnya, masih mampu menjual asetnya ke General Motors pada tahun berikutnya.

"Visi kami adalah untuk menemukan kembali transportasi dan kami telah mencapainya dengan ridesharing dan pengiriman. Namun, ini adalah kemenangan yang pahit," tulis Paul pada 2015.

Ia sebagian besar menyalahkan taktik agresif dan perilaku anti-persaingan Uber atas kekalahan Sidecar. Dia bahkan pernah mengajukan gugatan terkait masalah ini tahun lalu. Berdasarkan profil LinkedIn-nya, dia kini menjadi pendiri Spring Ventures, sebuah perusahaan pemodal.

8 CEO yang Dulu Melesat Namun Kemudian MelaratFoto: Business Insider


4. Sean Parker dan Shawn Fanning

Napster yang didirikan pada 1999 oleh dua remaja Sean Parker dan Shawn Fanning, menjadi layanan berbagi musik dan bertukar file gratis yang digemari pada masanya.

Tapi langkah mereka kemudian terjegal setelah beberapa tuntutan hukum menjeratnya. Napster kemudian setuju untuk membayar USD 26 juta kepada para publisher yang merasa dirugikan.

Pada 2002, Wired menyebut Napster sebagai 'perusahaan yang meluncurkan program Internet paling inovatif.'

Namun kemudian, Napster yang menjadi platform sangat terbuka, dihancurkan oleh banyak tuntutan hukum yang lebih luas, termasuk salah satunya yang datang dari band metal Metallica. Kasus ini disayangkan 57 juta penggunanya yang sangat menggemari Napster.

Beruntung, kegagalan berskala besar ini tidak lantas membuat kedua software engineer itu lumpuh selamanya. Parker di kemudian hari menjadi President of Facebook pertama meskipun akhirnya pergi setelah terlibat sebuah skandal, dan Fanning mulai berinvestasi. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com