Pertanyaan itu dibahas saat saya mengisi pelatihan pengelolaan medsos yang diselenggarakan Kementerian LHK di Bali (26 Juli 2019) dan Bogor (2 Agutus 2019). Narsum lainnya, ada Dr. Ir. Bambang Supriyanto, Jo Kumala Dewi dan wartawan senior Untung Widyanto.
Dalam diskusi ini, didapat kesimpulan bahwa akun khusus lebih efektif, setidaknya berdasarkan pengalaman saya mengkampanyekan isu peluang dan tantangan pasar bebas ASEAN sepanjang 2012-2015. Jadi akun pribadi tidak efektif?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisakah akun pribadi menerapkan pola 595 tersebut? Sangat bisa. Mengapa tidak? Ketika kita sudah memutuskan ingin dikenang sebagai apa setelah kematian, maka kita akan fokus menyampaikan isu yang kita tekuni tersebut lewat medsos.
Sebab itu, jangan menggunakan medsos sebelum jelas tujuan hidup kita, passion kita, manfaat apa yang akan kita berikan kepada NKRI dan dunia.
Bagaimana jika istri atau suami kita 'protes', karena kita tidak pernah mengunggah sesuatu yang diharapkannya, ucapan ulang tahun misalnya. Jika demikian, sebaiknya gunakan akun khusus dalam mengkampanyekan sebuah isu, dan akun pribadi sebagai pendukung utama.
Baca juga: Cara Ajarkan Anak tentang Keamanan Internet |
Saya kira demikian juga dengan bisnis, sebaiknya pisahkan akun pribadi dan akun yang kita gunakan untuk jualan. Saya yakin teman-teman punya pengalaman dan pemikiran berbeda, silakan berbagi. Terima kasih.
*) Hariqo Wibawa Satria adalah Direktur Eksekutif Komunikonten dan penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial.
(rns/rns)