Selasa, 30 Jul 2019 21:17 WIB

Di Balik Penampakan Pocong Kedungwaru, Ini Cara Kerja Google Maps

Rachmatunnisa - detikInet
Ilustrasi Google Maps. Foto: detikcom Ilustrasi Google Maps. Foto: detikcom
Jakarta - Kisah horor dan cerita seputar penampakan, seperti 'pocong Kedungwaru', yang dibagikan di dunia maya, sering kali jadi hal menarik untuk disimak. Apalagi jika kisah itu disertai dengan visual pendukung.

Dengan bantuan teknologi, kalian tidak hanya menemukan banyak cerita, tetapi juga bisa 'menjelajahi' tempat-tempat menyeramkan di dunia melalui perangkat kalian. Google Maps juga sempat membuat daftar lima tempat menyeramkan melalui tur Street View ini.

Di antara kisah dan tempat menarik yang bisa kalian temui lewat layanan Google, yang tak kalah menarik adalah mengetahui cara Google Maps dan Street View bekerja, sehingga bisa membantu jutaan pengguna menjelajahi dunia.




Tentunya diperlukan sejumlah langkah serta perpaduan pengguna, komunitas, dengan teknologi yang tepat. Proses ini juga melibatkan banyak tahapan, mulai menyediakan informasi peta, mempelajari setiap elemen yang digunakan untuk membantu orang mencari rute, melakukan penjelajahan, dan melakukan banyak aktivitas.

Bermula dari gambar

Citra atau gambar satelit dan Street View menjadi bagian penting dari cara Google mengidentifikasi tempat-tempat di dunia. Gambar dari satelit dan Street View menunjukkan lokasi jalan raya, bangunan, alamat, dan bisnis di sebuah wilayah beserta informasi penting lainnya.

Pada 2007, Street View diluncurkan untuk membantu orang mengeksplorasi dunia secara virtual, dari kedalaman Antartika hingga puncak Gunung Kilimanjaro. Lalu 12 tahun sejak itu, mobil Street View dan alat trekker Google telah mengumpulkan lebih dari 170 miliar citra dari 87 negara.

"Dengan trekker terbaru kami yang dilengkapi sensor resolusi tinggi dan bukaan yang lebih tinggi, kualitas citra tangkapan kami telah menjadi jauh lebih baik," kata Google seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (30/7/2019).

Di Balik Penampakan Pocong Kedungwaru, Begini Cara Kerja Google Maps

Sentuhan manusia


Data dan citra adalah komponen kunci dalam pembuatan peta, tapi dua elemen ini bersifat statis dan tidak selalu bisa mengikuti kecepatan perubahan dunia.

Karena itu, dibutuhkan elemen ketiga, yaitu sentuhan manusia, lebih tepatnya orang-orang yang membantu Google. Google memiliki tim operasi data di seluruh dunia yang memainkan peran di hampir segala aspek pembuatan peta, dari mengumpulkan citra Street View dan menyaring sumber data yang otoritatif hingga memeriksa dan mengoreksi peta yang kurang akurat.

"Kami juga punya komunitas Local Guide dan pengguna Google Maps, yang kami dorong untuk mengoreksi peta melalui tombol 'Kirim Masukan' dalam Google Maps," terang Google.




Local Guides adalah sebuah fitur Google Maps yang memungkinkan kita, para pengguna, memberikan nilai untuk suatu tempat dengan rating, menjelaskan pengalaman yang dirasakan pengguna dengan ulasan, membagikan foto dan video, menyampaikan analisis dengan jawaban, menanggapi pertanyaan tentang suatu tempat, meng-update informasi dengan pengeditan tempat, menambahkan tempat yang belum ada, atau melakukan verifikasi informasi dengan memeriksa fakta.

"Tim kami memeriksa informasi dari mereka dan mempublikasikannya jika kami menganggap informasi tentang jalan, bisnis, dan alamat itu cukup sesuai dengan kondisi nyata," tambah Google.

Mempercepat proses dengan machine learning

Citra, data yang otoritatif, dan input dari bantuan manusia membantu Google berkembang sampai saat ini. Namun Google ingin membuat peta mereka lebih berguna bagi lebih banyak orang dengan lebih cepat. Untuk meningkatkan kecepatan pembuatan peta, Google pun memanfaatkan machine learning. Machine learning memungkinkan tim Google mengotomatiskan proses pembuatan peta sambil menjaga tingkat akurasi yang tinggi.

Jalan yang masih sangat panjang

Peta sangat penting untuk mendukung perkembangan masyarakat. Dengan peta, orang terhubung satu sama lain, membantu menumbuhkan perekonomian dengan mempertemukan orang dengan bisnis dan restoran baru, serta membantu orang melakukan berbagai aktivitas.

Dikatakan Google, meski layanan mereka sudah berkembang sangat jauh dengan peta di lebih dari 220 negara dan wilayah, mereka sadar bahwa tugas mereka masih sangat banyak.




"Setiap wilayah memiliki kebutuhan yang berbeda dan tantangan tersendiri dalam pembuatan peta. Karena memiliki basis pengguna yang aktif dan sangat besar, kami terus mempelajari hal baru tentang dunia dan memperbaiki Google Maps sesuai dengan informasi terbaru," tutup Google.

Simak Video "Google Maps Usung AR Agar Pengguna Tak Mudah Tersasar"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed