Rabu, 26 Jun 2019 16:17 WIB

Misi Wahyoo Bawa Warteg dan Warung Makan Naik Kelas

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Wahyoo Foto: Wahyoo
Jakarta - Kendati rasanya enak dan menawarkan banyak pilihan menu, warung tegal (warteg) dan warung makan tradisional kerap dipandang remeh sejumlah pihak. Kondisi ini membuat mereka sulit berkembang.

Berangkat dari persoalan inilah Peter Shearer mendirikan Wahyoo pada 2017 silam. Keinginannya cuma satu membuat warteg dan warung makan naik kelas.




"Warteg yang ada sekarang dan yang saya datangi sepuluh tahun lalu tetap sama, tidak ada perubahan sama sekali," ujarnya saat berbincang dengan detikINET.

Khawatir seiring waktu, bila kondisinya dan cara jualan masih sama, warteg dan warung makan tradisional akan tersingkir. Kalah dari mereka-mereka yang lebih modern dan memanfaatkan teknologi.

"Karena itu saya melihat sudah saatnya kita sama-sama gandeng tangan coba membantu mereka. Itulah sebabnya saya membuat Wahyoo," ungkap Peter.

Terinspirasi Ibu

Peter mengaku ingin punya punya usaha yang berbeda dari lain. Sepuluh tahun lalu coba mengembangkan augmented reality (AR) di saat teknologi ini masih asing di Tanah Air.

Kini dia mencoba memodernkan warteg dan warung makan, ketika banyak orang kurang meliriknya. Tujuan utamanya meningkatkan kesejahteraan pemilik warung, selain itu juga agar tidak bernasib sama seperti ibunya tercinta.

Peter Shearer, CEO WahyooPeter Shearer, CEO Wahyoo Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

Ibu Peter memiliki usaha katering. Jadi dia tahu betul bagaimana perjuangan sang bunda harus bangun jam 03.00 subuh, ke pasar lalu memasak, dan harus kelar jam 10.00 karena perlu dihantar ke pelanggan.

Suatu hari, Peter dikejutkan oleh keputusan ibunya ingin setop dari usaha katering. Alasannya capek dan merasa tidak kuat lagi, padahal dia punya dua orang pegawai yang membantu masak tiap harinya.

"Saya sebagai anak kepikiran, kok sedih ya, ibu yang saya sayangi badannya kecapekan mencari nafkah. Saya percaya apa yang dialami ibu saya juga dialami pemilik warung makan kebanyakan," kata Peter.

"Banyak warung makan dijalankan tiga orang, mereka secara bergantian ke pasar, masak, melayani konsumen, pastilah capek banget. Makanya waktu lebaran kemarin banyak (pemilik warung) yang liburnya panjang banget, (istirahat) karena capek banget," sambungnya.

P3K

Lewat Wahyoo, Peter bersama timnya mengembangkan platform agar warteg dan warung makan tradisional punya sistem yang lebih baik. Para pemilik warung akan disodorkan P3K, kependekan dari pelatihan, pembimbingan, pendapatan, dan kemudahaan.

Suasana salah satu warteg yang bergabung dengan WahyooSuasana salah satu warteg yang bergabung dengan Wahyoo Foto: Wahyoo

Lewat Wahyoo Academy, para pemilik warung akan diberikan pelatihan sebulan sekali serta pembimbingan, mulai bagaimana mengatur keuangan, punya warung yang bersih, penyajian makanan hingga menghadapi keluhan konsumen.

Dengan Wahyoo, pemilik warung dimungkinkan untuk meningkatkan pendapatan. Salah satu contohnya mempromosikan produk di warungnya, sehingga menambah pemasukan.

Terakhir kemudahan. Para pemilik warung tidak susah payah berbelanja ke pasar tiap hari karena lewat ponselnya mereka bisa memesan kebutuhan yang kemudian dihantarkan ke warung.




"Mereka tinggal memasak saja. Bahan yang dikirimkan terjamin kualitasnya, sehingga meningkatkan kualitas makanan yang disajikan," terang Peter.


---

Jangan lewatkan artikel selanjutnya soal kiprah Wahyoo di kancah internasional di detikINET.


(afr/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed