Senin, 17 Jun 2019 16:03 WIB

AS Persulit Mahasiswa China karena Takut Jadi Mata-mata

Fino Yurio Kristo - detikInet
Harvard University. Foto: Dok. Harvard University Harvard University. Foto: Dok. Harvard University
Washington - Amerika Serikat adalah tujuan nomor satu bagi mahasiswa China yang ingin kuliah di mancanegara. Akan tetapi belakangan, usaha mereka untuk belajar di Negeri Paman Sam semakin dipersulit.

Dikutip detikINET dari BBC, pemerintah AS mengincar kalangan akademisi yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan nasional atau terlibat dalam pencurian properti intelektual. Tahun lalu, AS memperpendek masa pakai visa mahasiswa China di jurusan tertentu karena ketakutan itu.

Mereka yang belajar di ilmu sensitif, harus menembus pemeriksaan tambahan dari kedutaan dan konsulat AS. Anggota Partai Republik juga mengajukan aturan untuk melarang siapapun yang disponsori atau dipekerjakan militer China menerima visa pelajar atau riset.




Beberapa pejabat AS mengutarakan kekhawatiran bahwa mahasiswa China akan mencuri inovasi AS. "China telah memprakarsai pendekatan sosial untuk mencuri inovasi dengan cara apapun, dari bisnis, universitas dan organisasi," sebut Christopher Wray, direktur FBI.

Tuduhan itu bukan tanpa bukti. Pada tahun 2018, seorang mahasiswa bernama Ji Chaowun ditangkap AS dengan tuduhan menjadi agen pejabat intelijen China. Ji mengirim email bahwa ada 8 individu di AS yang berpotensi jadi mata-mata China. Maka, FBI khawatir Beijing mengincar universitas AS untuk mencuri teknologi.

Kecemasan itu bertambah seiring semakin banyaknya mahasiswa dan ilmuwan China yang bertahun-tahun menempuh ilmu di AS kembali ke negaranya. Itu karena tak seperti dulu, lapangan kerja bagi mereka sudah banyak tersedia di kampung halaman.

"Bertahun-tahun silam, jika kalian adalah engineer, kalian mungkin tak dapat menemukan pekerjaan yang layak di China. Tapi sekarang, China lebih kaya, ekosistem teknologinya juga lebih baik," sebut Matt Sheehan dari Paulson Institute di Chicago.

"Banyak lulusan kembali ke China dari Silicon Valley karena mereka ingin membangun startup. Tidak ada tempat lebih baik dibanding China untuk itu, di mana mereka tahu bahasa dan budayanya," tambah dia.




Kecemasan itu, di mana pemerintah AS tak ingin teknologinya diambil China, membuat mahasiswa asal Negeri Tirai Bambu makin dibatasi ruang geraknya. Apalagi perang dagang antara dua kekuatan besar itu terus memanas.

Tapi di sisi lain, mahasiswa China dan keluarganya turut berperan besar dalam ekonomi AS. Menurut NAFSA: Association of International Educators, mereka diestimasi menyumbang USD 13 miliar pada tahun 2017 sampai 2018.


(fyk/krs)