Selasa, 07 Mei 2019 20:24 WIB

Pria Kelahiran India yang Seolah Bill Gates Kedua

Fino Yurio Kristo - detikInet
Satya Nadella, Bill Gates dan Steve Ballmer. Foto: istimewa Satya Nadella, Bill Gates dan Steve Ballmer. Foto: istimewa
Jakarta - Bill Gates membawa Microsoft pada kejayaan yang kemudian sempat redup pada era kepemimpinan CEO Steve Ballmer. Untunglah ada 'Bill Gates' kedua.

Satya Nadella
yang pembawaannya tenang memang berbeda dari kepribadian Gates yang saat menjadi bos suka meledak. Namun prestasi Nadella membawa Microsoft pada kejayaan mengingatkan pada era gemilang Gates di mana Windows mendominasi jagat teknologi.

Secara ringkas, di bawah nakhoda Nadella yang menjadi CEO Microsoft sejak 2014, perusahaan legendaris ini punya lebih banyak pelanggan daripada Netiflix, lebih banyak pendapatan dari cloud ketimbang Google dan kapitalisasi pasar USD 1 triliun.



Dikutip detikINET dari Bloomberg, kebangkitan kembali Microsoft setelah 5 tahun di bawah Nadella yang menggantikan Ballmer, diangggap historis. Di masa silam, meski masih perusahaan raksasa, Microsoft dianggap ketinggalan di berbagai bidang bisnis teknologi paling berpengaruh zmaan ini.

Dari ponsel, mesin cari sampai media sosial, semuanya gagal dirambah Microsoft. Gawatnya di sisi lain, software Windows yang jadi sumber pendapatan utama stagnan seiring melemahnya pasar PC.

Nadella bertindak taktis. Pria yang lahir dan tumbuh besar di India ini membuang bisnis ponsel yang tak jua menguntungkan dan memangkas 7.800 pekerjaan di 2015. Ia memotong pula pendanaan untuk Windows dan membangun bisnis cloud masif.

Perjudiannya terbayar, bisnis cloud Microsoft telah menghasilkan pendapatan USD 34 miliar tahun lampau, yang berarti telah melebih Google dan mempersempit jarak dengan pemimpin pasar, Amazon Web Services.

"Saya tidak tahu apa ada perusahaan software lain dalam sejarah teknologi yang jatuh di masa sukar dan pulih dengan begitu baiknya," kata Reed Hastings, CEO Netflix mengenai Microsoft.

Software produktivitas Office sekarang berbasis cloud dengan 214 juta pelanggan yang membayar sekitar USD 99 per tahun. Platform cloud Azure pun meraih klien kelas berat seperti ExonMobile, Starbucks dan Walmart.

Ballmer yang meledak-ledak dan pertikaian internal dengan banyak ego di Microsoft seolah punya penawar dalam diri Nadella. Dia selalu tenang, bahkan kabarnya tidak pernah marah. Ballmer pun sedikit banyak berjasa karena dialah yang melihat potensi besar Nadella.

"Dia jelas melihat Nadella sebagai paket lengkap dengan kecerdasan teknis dan kekuatan personal, meskipun Satya memimpin dalam cara yang berbeda dibandingkan Steve," kata Reed.

Ballmer pernah mengaku senang karena Nadella adalah CEO yang ia rekomendasikan bersama Bill Gates.



"Dia adalah rekomendasiku, juga rekomendasi Bill Gates. Kupikir dulu, dia adalah kandidat untuk menggantikanku sehingga kami memindahkannya terakhir kali di sebuah divisi besar. Aku senang dia mendapatkan pekerjaan itu (CEO-red) di mana dia melakukannya dengan hebat," puji Ballmer.

Nadella sendiri masih merasa belum puas dengan pencapaiannya. "Di Microsoft, kami punya kebiasaan sangat buruk dengan ketidakmampuan memacu diri kami sendiri," paparnya. (fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com