Kamis, 28 Mar 2019 22:20 WIB

Go-Food Bantu Pemuda Ini Rajai Pasar Ayam Geprek di Semarang

Muhammad Idris - detikInet
Foto: Go-Jek Indonesia Foto: Go-Jek Indonesia
Semarang - Anton Septian Putra Hermawan (25), pemilik usaha ayam geprek "Geprek Zone" di Semarang, tidak pernah membayangkan gerai ayam geprek yang dibangunnya saat menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi bisa sukses besar.

Kesuksesan yang diraih Anton tidak terjadi begitu saja. Ia melewati jalan yang berliku, mulai dari usaha jualan susu kecil-kecilan hingga akhirnya terjun ke bisnis kuliner ayam geprek yang ia tekuni hingga kini.

Bidang yang ia geluti saat ini tidak lepas dari pengalamannya di masa awal-awal kuliah saat memutuskan untuk kuliah di Bandung mengambil jurusan arsitektur.

Setelah dua tahun, Anton baru menyadari bahwa jurusan yang ia ambil ini tidak pas dengan dirinya. Dengan berat hati ia pun menyampaikan keputusan untuk berhenti kuliah arsitektur ke orang tuanya dan kembali ke Semarang, untuk kemudian kuliah di Unika di jurusan teknologi pangan yang lebih ia minati.




Karena merasa bersalah telah "menghabiskan" duit orang tuanya selama dua tahun di Bandung, Anton memutuskan untuk tidak lagi membebani orang tuanya. Ia pun memilih berjualan susu agar bisa membiayai kuliahnya sendiri.

Tidak lama kemudian, Anton pun mulai coba-coba masuk ke bisnis kuliner dengan berjualan ayam geprek. Gerai pertama yang ia buka ternyata lumayan laku.

Peningkatan omzet penjualan ayam geprek itu diawali dengan perkenalannya dengan penawaran Go-Jek, melalui salah satu unit bisnisnya Go-Food. Dua bulan setelah memutuskan untuk menjadi merchant Go-Food, penjualan ayam gepreknya meningkat drastis. Bahkan hingga tiga kali lipat di atas rata-rata penjualan sebelumnya!




"Saya pikir teknologi (Go-Food) sangat membantu perkembangan bisnis saya. Karena jangkauan usaha saya menjadi lebih luas dan lebih mudah mendapat konsumen baru. Konsumen yang dulu lokasinya jauh jadi bisa beli," kata dia seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Kamis (28/3/2019).

Anton, yang kini telah memiliki tujuh gerai ayam geprek, juga menduga bahwa peningkatan penghasilan yang sangat signifikan itu tidak lepas dari gaya hidup konsumen yang saat ini kian membutuhkan layanan antar makanan. Go-Food pun amat mengakomodir segala sesuatu terkait usahanya tersebut.

"Selain peningkatan penjualan, Go-Food juga banyak sekali membantu mulai dari akuntansi, penjualan, food delivery, logistik, semuanya sekarang sudah sangat terbantu dengan teknologi melalui Go-Food, jadi operational costnya juga bisa lebih irit dan efisien," ujar pria yang kini mempekerjakan ratusan karyawan itu.

Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) pada tahun 2018 menyebutkan bahwa Go-Food menyumbang sebesar Rp 18 Triliun melalui omset mitra UMKM. Dari riset yang sama, ditemukan juga sebesar 93% mitra UMKM Go-Food mengalami peningkatan volume transaksi, dimana hal ini memicu mereka untuk terus mengembangkan bisnis mereka.




(idr/fyk)