Rabu, 13 Mar 2019 18:46 WIB

3 Kecurangan yang Marak di Transportasi Online

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ridzki Kramadibrata. Foto: Agus Tri Haryanto/inet Ridzki Kramadibrata. Foto: Agus Tri Haryanto/inet
Jakarta - Ada tiga kecurangan yang marak terjadi di transportasi online di Indonesia. Data ini diungkapkan oleh Grab Indonesia.

"Kita nggak ada detailnya, cuma itu ada tiga terbesar. Kalau disebutkan itu bisa 20, kan bingung juga. Itu tiga paling utama yang biasa dilakukan," ujar Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata ditemui di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Ketiga kecurangan yang dimaksud adalah:

1. GPS Palsu

Menggunakan alat GPS palsu dan telepon yang dimodifikasi untuk memalsukan perilaku pengemudi dan menyelesaikan perjalanan untuk memainkan sistem.

2. Penyalahgunaan Insentif

Menyiapkan beberapa telepon dan akun, serta berpura-pura melakukan banyak perjalanan yang dibayar secara tunai untuk mendapatkan memanfaatkan dari pembayaran bonus setelah berhasil mencapai status mendapatkan insentif.



3. Aplikasi Palsu

Aplikasi yang telah dirusak atau aplikasi ilegal yang diunduh di luar Play Store atau Apps Store resmi.

Dari ketiga kecurangan dalam industri ride hailing di atas, Grab mengatakan ada empat dampaknya, yaitu hilangnya kepercayaan pengguna, berkurangnya penghasilan driver, integritas sistem terganggu, dan kehilangan pendapatan.

Riset Pihak Ketiga

Berdasarkan hasil riset pihak ketiga, yaitu dilakukan oleh Spire Research and Consulting mengungkapkan kecurangan di masing-masing layanan transportasi online, Grab dan Go-Jek.

Disebutkan dalam studi tersebut bahwa kecurangan yang terjadi Go-Jek sebesar 30%, sedangkan Grab hanya 5%. Tetapi, menurut Head of Trust Grab Wui Ngiap Foo, Grab telah menurunkan kecurangan tersebut sampai di bawah 1%.

"Kami bangga hasil riset mengatakan kalau kompetitor kecurangannya 30% dan kami 5% tapi kami bisa menurunkan hingga kurang 1%," ucapnya.



Pengurangan kecurangan itu tak terlepas dari investasi signifikan pada infrastruktur yang dilakukan oleh Grab, salah satunya dengan keberadaan Grab Defence.

Grab Defence merupakan sebuah perangkat teknologi anti-kecurangan yang dibangun dari database Grab yang telah teruji dalam mengurangi tindak kecurangan untuk memperkuat ekosistem teknologi dan arus transaksi. (agt/fyk)