Selasa, 19 Feb 2019 11:21 WIB

WhatsApp Meraksasa Setelah 5 Tahun Dicaplok Facebook, tapi...

Fino Yurio Kristo - detikInet
Logo WhatsApp. Foto: Reuters Logo WhatsApp. Foto: Reuters
Jakarta - 5 tahun lampau pada 19 Februari 2014, Facebook mengumumkan pembelian WhatsApp dengan mahar USD 19 miliar. Awalnya, sempat diragukan apakah WhatsApp pantas dihargai setinggi itu. Tapi seiring berjalannya waktu, perjudian Facebook ternyata tepat.

Terutama dari sisi jumlah pengguna, WhatsApp tak terbendung. Saat ini, WhatsApp adalah layanan messaging terpopuler di dunia, dengan 1,5 miliar pengguna di 180 negara. Setiap hari, ada 1 juta user baru bertambah.

Dikutip detikINET dari Deutsche Welle, orang mengirimkan sekitar 65 miliar pesan per hari via WhatsApp. Dan sebanyak 55 juta kali panggilan video dilakukan juga di platform tersebut setiap hari.




Adapun negara dengan pengguna WhatsApp terbesar adalah India. Sedikitnya, 200 juta warga di Negara Gangga itu merupakan pemakai WhatsApp dan terus melonjak.

Tapi, pembelian WhatsApp belum sepenuhnya sukses. Terutama dilihat dari sisi bisnis, layanan ini belum memberi pemasukan signifikan bagi Facebook. Tentu saja perusahaan milik Mark Zuckerberg itu tidak tinggal diam, apalagi mengingat jumlah user WhatsApp luar biasa banyaknya.

Beragam cara sedang digodog Facebook untuk membuat WhatsApp menjadi mesin uang. Sayangnya, upaya itu kurang berkenan bagi para pendiri WhatsApp, Jan Koum dan Brian Acton.

Brian memutuskan keluar dari Facebook pada akhir tahun 2017 dan bergabung dengan layanan pesaing, Signal. Jan Koum kemudian menyusul hengkang pada pertengahan tahun lalu.

Sempat bungkam, Acton lalu terang-terangan mengatakan pada media bahwa dia tidak setuju dengan rencana Facebook memonetisasi WhatsApp. Ketika mengajukan usul agar metode iklan WhatsApp lebih halus, saran Acton pun dimentahkan.

Adapun Jan Koum tidak secara terbuka menyebutkan alasannya meninggalkan WhatsApp, perusahaan yang dibesarkannya. Tapi banyak yang menduga, ia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Acton.

Selain friksi internal, WhatsApp belakangan juga tengah menghadapi tekanan berbagai negara soal maraknya penyebaran hoax. Terkhusus di India, beberapa orang tidak bersalah tahun lalu tewas dihakimi massa karena dituding sebagai penculik anak via WhatsApp.




Berbagai upaya pun dilakukan WhatsApp untuk membendung hoax semacam itu. Misalnya membatasi berapa kali user dapat meneruskan sebuah pesan, fitur yang awalnya ada di India dan kini diterapkan di seluruh dunia.

Begitulah, banyak cerita selama 5 tahun WhatsApp berada di bawah naungan Facebook. Masa depannya jelas penuh tantangan, tapi tak dapat dipungkiri bahwa Facebook berhasil melesatkan WhatsApp ke posisinya sekarang.


(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed