Kamis, 07 Feb 2019 12:01 WIB

Mengenal Jenis-jenis Jejak Digital

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Jejak digital belakangan jadi kata yang sering terdengar, terutama setelah Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin menyebut banyak jejak digital yang menunjukkan kemungkinan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggunakan jasa konsultan asing untuk Pilpres 2019. Sebenarnya apa sih jejak digital itu?

Laman TechTerms menyebut jejak digital adalah jejak data yang muncul ketika seseorang menggunakan internet. Bentuk dan sumbernya pun bermacam, dari situs yang dikunjungi, email yang dikirimkan, dan informasi lain yang 'disetor' ke berbagai layanan online.

TechTerms juga membagi jejak digital menjadi dua jenis, pasif dan aktif. Jejak digital pasif adalah data yang 'ditinggalkan' tanpa sadar oleh pengguna ketika berselancar di dunia maya.




Contohnya adalah ketika mengunjungi sebuah situs, maka server tempat situs itu tersimpan mungkin akan menyimpan alamat IP pengunjungnya. Dari alamat IP itu bisa dikenali internet service provider (ISP) yang dipakai, termasuk perkiraan lokasi pengakses situs tersebut.

Alamat IP -- kecuali yang statis -- memang akan terus berubah dan tak menyimpan informasi personal pemakainya, namun alamat ini tetap masuk dalam kategori jejak digital. Contoh lain dari jejak digital pasif adalah search history, yang biasanya disimpan oleh mesin pencari ketika kita login dan menggunakan layanan mereka.

Sementara jejak digital aktif adalah data atau informasi yang dengan sengaja diunggah oleh seseorang ke dunia maya. Mengirimkan email adalah salah satu contoh dari jejak digital jenis ini. Karena kebanyakan orang menyimpan email secara online, pesan yang dikirimkan lewat email ini cenderung akan tersimpan dalam jangka waktu yang lama.




Namun jejak digital aktif yang paling populer saat ini tentulah blog dan media sosial. Setiap kicauan yang dikirimkan ke Twitter, setiap update status yang dipublikasikan lewat Facebook, dan setiap foto yang diposting ke Instagram adalah jejak digital aktif.

Semakin lama anda berkutat di media sosial, maka jejak digital anda akan semakin besar. Bahkan untuk hal sepele seperti me-like sebuah laman di Facebook pun akan tercatat sebagai sebuah jejak digital, karena data tersebut akan tersimpan di server Facebook.

Semua orang yang menggunakan internet tentu akan mempunyai jejak digital, jadi ini bukanlah sebuah hal yang seharusnya dikhawatirkan. Namun hal yang harus dikhawatirkan adalah data atau informasi apa yang kita tinggalkan di dunia maya, karena suatu saat data tersebut bisa disalahgunakan oleh orang atau pihak lain.




Contohnya adalah jejak digital yang disebut-sebut oleh TKN Joko Widodo-Ma'ruf Amin dari kubu BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno soal kemungkinan penggunaan jasa konsultan asing untuk Pilpres 2019.

"Di era keterbukaan seperti sekarang ini, BPN Prabowo-Sandi justru tidak bisa mengelak dengan banyaknya jejak digital kehadiran konsultan asing di kubu mereka," ungkap juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Rabu (6/1/2019) kemarin.

Saat itu Ace mempersoalkan foto yang tersebar memperlihatkan ada dua orang asing, perempuan dan lelaki, dalam satu ruangan bersama Prabowo-Sandiaga. Dalam foto itu terdapat tokoh lain seperti Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sejumlah elite dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

"Jejak digital itu bisa ditemukan dengan mudah dalam bentuk foto, video maupun informasi-informasi di sosial media," sebutnya ketika itu.




Tonton juga video 'Cegah Kampanye Hitam, Kominfo Gencarkan Literasi Digital':

[Gambas:Video 20detik]

(asj/krs)