Sabtu, 22 Des 2018 15:00 WIB

Dilema Gen Z Pakai Kartu Uang Elektronik

Aurelia Maria Indri Rooselinda - detikInet
Sejumlah Gen Z merasa dilema dalam menggunakan kartu elektronik seperti TapCash, e-money, sampai Flazz. Foto: Dewi Rachmat Kusuma Sejumlah Gen Z merasa dilema dalam menggunakan kartu elektronik seperti TapCash, e-money, sampai Flazz. Foto: Dewi Rachmat Kusuma
Jakarta - Grab dan Tokopedia ada Ovo. Go-Jek punya Go-Pay. Tix ID disokong Dana. Mulai dari penyedia jasa ride-hailing, e-commerce, sampai platform untuk membeli tiket bioskop, memiliki metode pembayaran non-tunai masing-masing.

Pengisian ulang dan pembuatan dompet elektronik ini pun mudah. Beberapa di antaranya bahkan menerapkan transaksi menggunakan kode QR yang hanya memerlukan ponsel dan dapat dilakukan di mana saja tanpa perlu pergi ke ATM serta disertai oleh sistem pengaman pin seperti halnya kartu debit.


Penyimpanan uang di dalam dompet elektronik ini juga dinilai aman dengan adanya pin dan kode verifikasi sebelum daftar masuk dan pada saat transaksi dilakukan. Hal tersebut membuat layanan jasa keuangan ini sudah menjadi akrab dengan masyarakat, apalagi Gen Z sebagai digital native.

Terobosan baru ini menimbulkan dilema di hati masyarakat, terutama Gen Z yang sudah terbiasa menggunakannya, dalam mengadopsi kartu uang elektronik. Padahal, guna kartu uang elektronik juga penting untuk transportasi seperti akses tol, TransJakarta, dan Commuter Line.

Meski demikian, tata cara pengisian ulang kartu uang elektronik dinilai sedikit lebih rumit karena hanya dapat dilakukan pada gerai dan ATM tertentu. Hal tersebut diungkapkan oleh Sri Retnaningtyas, mahasiswi asal Pejaten yang biasa menggunakan kartu uang elektronik dalam kegiatan sehari-harinya.

Selain itu, biaya administrasi yang dikeluarkan saat melakukan pengisian ulang di gerai kartu uang elektronik juga menyebabkan keraguan di masyarakat yang merasa merugi. Adalah Fransisko Vito, mahasiswa asal Bekasi yang menyampaikan hal tersebut.

Selain itu, meskipun eksistensi kartu uang elektronik berada di bawah pengawasan Bank Indonesia (BI) dan diatur pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 20/6/PBI/2018, layanan ini tidak memiliki sistem pengaman pin seperti kartu debit dan dompet elektronik.


Jadi, jika kehilangan kartu uang elektronik sama saja dengan kehilangan uang kartal. Siapa pun yang memegang kartu tersebut dapat menggunakan saldo yang ada.

Aspek terakhir yang menyebabkan kartu uang elektronik hanya diterapkan di daerah tertentu adalah kurangnya pihak yang bekerjasama dalam menarapkannya. Hal ini menyebabkan penyebaran pengetahuan tentang kartu uang elektronik tidaklah merata.

Masyarakat daerah yang datang ke Jakarta, misalnya, kebanyakan baru mengerti apa itu kartu uang elektronik jika telah sampai di sini. Mereka belum benar-benar mengenali apalagi memahami bagaimana cara menggunakan kartu uang elektronik.

"Aku suka sekali keliling daerah pakai transportasi umum. Menurut aku, aku bisa jadi lebih dekat dan mengenal budaya sekitar. Kalau di Jakarta aku merasa terbantu sekali, cuma dengan satu kartu uang elektronik aku bisa pakai bus TransJakarta atau kereta Commuter Line untuk keliling Jakarta," ujar Pamela Chelsea Taroreh, mahasiswi London School of Public Relations (LSPR), Jakarta.

"Tetapi, di beberapa daerah lain, fasilitas seperti ini belum dikelola secara maksimal, membuat aku agak kesusahan kalau mau traveling irit budget, dan fungsi dari kartu uang elektronik sendiri belum sampai pada telinga masyarakat sekitar yang sering aku temui di transportasi umum daerah tersebut. Sangat disayangkan sebenarnya," tuturnya menambahkan.


Ada baiknya jika pemerintah meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas penggunaan kartu uang elektronik. Selain itu, penting juga untuk membuatnya memiliki sistem pengisian ulang saldo kartu uang elektronik yang lebih mudah tanpa ada biaya administrasi.

Tak lupa, perlu diperhatikan juga untuk meningkatkan sistem pengamanan kartu uang elektronik. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan keinginan masyarakat dalam memiliki dan menggunakan kartu uang elektronik.


Penulis, 19 tahun, adalah mahasiswi London School of Public Relations, Jakarta, Angkatan 21, yang mengambil jurusan Public Relations. (mon/mon)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed