Sabtu, 01 Des 2018 19:15 WIB

Laporan dari Australia

Startup Bandung Masuk Final Kompetisi Pitching Asia Pasifik

Gibran Maulana Ibrahim - detikInet
Halal Local wakil Indonesia berhasil masuk final di kompetisi pitching di Australia. Foto: Gibran Maulana Ibrahim/detikINET Halal Local wakil Indonesia berhasil masuk final di kompetisi pitching di Australia. Foto: Gibran Maulana Ibrahim/detikINET
Sydney - Startup asal Bandung berhasil unjuk gigi dalam kompetisi pitching se-Asia Pasifik di Australia. Lewat aplikasi bernama Halal Local, mereka berhasil menembus babak final atau enam besar.

Perhelatan Asia Pacific Pitch Competition yang diselenggarakan oleh StartCon. Kegiatan ini berlangsung di Royal Randwick Racecourse, Sydney, Australia, Sabtu (1/12/2018).

Pada babak semi final Halal Local harus bersaing dengan 28 startup yang berasal dari sejumlah negara Australia, China, Filipina dan Korea Selatan. Berkat usaha yang gigih, mereka berhasil masuk ke babak grand final bersama lima startup lain.



Dalam rangkaian Digital Indonesian Media Visit oleh Kedubes Australia Jakarta, detikINET berkesempatan menyaksikan langsung pitching Halal Local. Chief Technology Officer Halal Local Nurma Lestari memimpin timnya memaparkan kebolehan aplikasinya..

"Halal Local merupakan aplikasi yang memberikan traveler muslim segala informasi yang dibutuhkan. Kami mempunyai lebih dari 50 ribu restoran halal dan 150 ribu tempat beribadah di 110 negara. Kami punya pengguna dari Asia Pasifik juga Eropa. Kami punya partner dari Asia, China, Jepang, Australia," kata Nurma saat piching.

Meski berhasil menembus grand final, Halal Local belum menjadi juara pertama yang bakal mendapat hadiah 1 juta dolar Australia. Tetap saja, prestasi Halal Local bisa dibilang membanggakan.

Usai kompetisi pitching, rombongan bertemu pihak Halal Local dan sang CEO, M Senoyodha Brennaf. Yodha, begitu dia biasa disapa, menjelaskan lebih jauh soal Halal Local.

"Halal Local itu startup aplikasi kantor kami di Bandung. Memudahkan muslim traveler pergi ke luar negeri gampang cari makanan halal. Tahu jam salat, arah kiblat," tuturnya.

"Adapun Halal Local merupakan startup binaan Bekraf yang telah mengikuti program BEK-AP, Deureuham, dan BIP dari Bekraf. Bekraf pun telah mendukung dan menemani keberangkatan team Halal Local ke Australia," imbuh Senoyodha.

Aplikasi Halal Local dapat diunduh App Store dan Play Store. Aplikasi Halal Local dapat diunduh App Store dan Play Store. Foto: Halal Local


Halal Local tercipta saat Yodha bersama Nurma, mengambil studi master di Inggris. Mereka adalah penerima beasiswa ketika itu. Sebagai muslim asal Indonesia, mencari makanan halal di negeri orang diakuinya sangat sulit.

"Selama saya di luar negeri merasakan cari makanan halal nggak gampang, di luar negeri nggak mudah cari makanan halal. Salat di stasiun kiblatnya ya udahlah searah tembok," jelasnya.

Pada 2016, Yodha menyebut ide menciptakan Halal Local lalu tercetus. Namun baru 2017, startup itu mulai dijalankan.

Selain Halal Local, sebenarnya banyak aplikasi serupa yang menyediakan informasi serupa bagi muslim traveler. Lalu, apa yang membuat Halal Local berbeda?

"Bedanya value. Kalau fitur balap-balapan. Value kami supaya kalau orang ke luar negeri nggak tahu bahasa, tetap merasa aman dan nyaman. Lebih merasakan islamiyahnya," jelas Nurma.


Dalam mendata masjid dan restoran halal di negeri orang, Halal Local punya beragam cara. Pertama, bisa dari instansi resmi secaman MUI di tiap negara, semacam dewan masjid di tiap negara hingga informasi dari user.

Halal Local ingin terus berkembang. Ke depan, mereka punya target pasar yang cukup besar. "Validasi market kita dari 168 juta muslim traveler. Kita targetkan 20%, sekitar 30 juta di 2022," pungkas Nurma.



Tonton juga video 'Peran Pemerintah dalam Memfasilitasi Masyarakat dengan Teknologi':

[Gambas:Video 20detik]

Startup Bandung Masuk Final Kompetisi Pitching Asia Pasifik
(gbr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed