Jumat, 05 Okt 2018 17:10 WIB

Kolom Telematika

7 Pelajaran dari Kebohongan Ratna Sarumpaet

Hariqo Wibawa Satria - detikInet
Ilustrasi hoax. Foto: ThinkStock Ilustrasi hoax. Foto: ThinkStock
Jakarta - Kebohongan Ratna Sarumpaet atas rekayasa kasus penganiayaan berbuntut panjang. Namun selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Setidaknya, ada tujuh pelajaran dari kebohongan Ratna Sarumpaet.

Pertama, untuk kita orang awam, tentunya tidak mudah membedakan, ini wajah bengkak akibat dipukul atau karena operasi plastik? Karenanya, begitu melihat wajah Ratna Sarumpaet bengkak, wajar banyak orang langsung bersimpati dan menyampaikan duka bahkan kecaman lewat media sosial (medsos).




Kedua, untuk para politisi, sesungguhnya mereka banyak awam juga soal ini. Namun di ponsel mereka ada nomor dokter, polisi, psikolog, psikiater yang bisa diminta tolong mengecek, sebelum memutuskan menggunggah di medsos apalagi konferensi pers.

Di sini penting juga setiap organisasi tim sukses merekrut anggota tim dari latar belakang berbeda seperti dokter, psikiater, psikolog, dan lain-lain.

Ketiga, individu yang bersimpati, mengecam bengkaknya wajah Ratna Sarumpaet di medsos sebelum ketahuan bohong, bukan saja pendukung Prabowo-Sandi namun juga pendukung Jokowi-Maruf.




Bahkan banyak juga warganet yang selama ini netral. Motif mereka mengecam bisa berbeda, bisa karena kemanusiaan, politik, dan lain sebagainya.

Keempat, individu yang tidak bersimpati, mengecam bengkaknya wajah Ratna Sarumpaet di medsos sebelum ketahuan bohong, bisa karena beberapa hal:

(1) Bisa karena tidak suka atau 'haternya' Ratna Sarumpaet, (2) tidak suka Prabowo-Sandi dan kebetulan Ratna Sarumpaet mendukung Prabowo-Sandi, (3) tidak mengikuti kejadian karena sibuk urusan lain, (4) mengikuti kejadian namun berhati-hati sebelum merespon informasi. Tipe nomor empat ini yang luar biasa.




Kelima, sejauh pengamatan saya, media online utama (yang terverifikasi Dewan Pers) yang memberitakan selalu menuliskan dugaan, bukan menuduh. Apalagi mengarahkan pembaca bahwa pelakunya adalah kelompok tertentu.

Keenam, kasus kebohongan Ratna Sarumpaet ini tergolong luar biasa. Namun terjadi juga dalam versi lain di masyarakat. Misalnya, pernah ada kejadian si A menyampaikan ke masyarakat bahwa saudaranya atau pacarnya dibunuh, namun setelah diperiksa cukup lama oleh polisi, psikiater, dan ahli lainnya barulah terungkap. Ternyata si A-lah pembunuhya.

Ketujuh, pola pikir jika A terluka maka pelakunya pasti B berbahaya. Kecurigaan di hati boleh saja. Namun kebiasaan langsung menuduh lewat medsos akan merugikan.




Sebaiknya, pelajari berbagai pendapat orang yang benar-benar ahli di bidang tersebut sebelum beraktivitas di medsos. Demikian juga, jika ada kejadian serupa, jangan juga kita langsung menuduh di medsos bahwa ini bohong atau akting. Pokoknya, tunggu pendapat orang yang benar-benar ahli.

Terakhir, situasi bangsa kita sedang sangat berduka. Ada musibah di Palu, Donggala, Lombok dan beberapa daerah lainnya. Karena itu, sebaiknya akhiri kegiatan banyak-banyakan posting di medsos atau 'lomba trending topik' soal Ratna Sarumpaet di medsos dan internet.



*) Penulis: Hariqo Wibawa Satria adalah Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi.


(rns/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed