'Indonesia Berpotensi Kembangkan Konten Digital'
- detikInet
Jakarta -
Indonesia dianggap lebih berpeluang untuk mengembangkan konten digital, daripada harus bersaing dengan India dalam hal database. Bisnis animasi yang booming di Jepang dan Korea, dirasa perlu diadopsi, dengan catatan harus mengedepankan keunikan yang menggambarkan budaya Indonesia yang beragam.Menurut Armein Z.R. Langi, Ketua Pusat Sumber Daya Informasi Institut Teknologi Bandung, Indonesia berpeluang besar untuk bersaing dalam industri konten di mancanegara dengan mengandalkan keunikan ragam budaya."Itu bisnis ratusan miliar dolar kalau dalam lima tahun kita bisa masuk ke digital content," kata Armein kepada detikinet Rabu (2/8/2005). "Kalau untuk database, kita masih susah untuk bersaing dengan India," papar Armein.Armein mencontohkan negara-negara di Asia seperti Jepang dan Korea yang bisa menawarkan konten digitalnya ke seluruh dunia. "Anime sudah masuk dalam bentuk film dan iklan. Mereka sudah pakai digital artis," ujarnya. "Sintesal seperti itu merupakan potensi kultural," tambahnya.Untuk mengembangkan dan pengarahan kreativitas itu, menurut Armein, perlu adanya sarana yang memadai. Indonesia, lanjutnya, harus bisa mengejar teknologi yang belum tersentuh oleh negara lain."Indonesia punya banyak seniman digital. Orang yang tidak terlalu jago TI pun asal dikasi tools untuk berkarya, pasti bisa produktif," imbuh Armein. "Sepuluh persen aja dari 200 juta orang Indonesia yang pintar, bisa lebih maju dari negara lain," tambahnya.Sementara itu, Head of Division PT Telkom Tbk, Dian Rachmawan, di lain kesempatan mengatakan kepada detikinet, berdasarkan data yang diperolehnyam, artis lokal lebih disukai dalam konten digital -- dengan persentase sebesar 70 persen -- dibanding artis luar negeri.Menurut Armein, teknologi informasi (TI) menawarkan tiga janji. Pertama menaikan kualitas SDM, kedua membuat lebih cerdas dan ketiga kualitas hidup yang lebih baik."Tapi kalau TI tidak bisa dikemas dengan baik, tidak bisa menjangkau orang yang kondisinya kurang beruntung, ketiga janji yang ditawarkan tidak akan terwujud," kata Armein. "TI bukan hanya milik insinyur. Cuma bagaimana caranya TI bisa produktif ciptakan lokal konten yang unik, khas kita. Kalau kita kreatif, maka kesempatan akan lebih besar," paparnya.
(rou/)