'Pusat Riset Microsoft di Indonesia Harus Beda!'
- detikInet
Jakarta -
Pusat riset Microsoft di Indonesia diharapkan akan menangani bidang-bidang penelitian yang berbeda dibanding pusat riset di negara lain. Hal tersebut disampaikan Tony Chen, Presiden Direktur Microsoft Indonesia dalam acara temu wartawan di Restoran Summer Palace, AutoMall, Jakarta, Selasa (2/8/2005). "Direktur antar universitas Microsoft telah datang ke Indonesia untuk menekankan agar Indonesia bisa fokus ke bidang penelitian yang berbeda. Jangan sampai sama seperti pusat riset yang lain," ujarnya. Sampai saat ini Microsoft Indonesia telah menyepakati kolaborasi pusat riset Microsoft Indonesia dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang ditandatangani di Beijing, 29 Juli 2005. Kedua universitas itu 'ditunjuk' oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai perguruan tinggi yang melaksanakan research collaboration project. Menurut Andreas Tardyanto, Public Sector Director Microsoft Indonesia, hasil riset tidak ditargetkan untuk menjadi produk. "Jadi mereka boleh meneliti apa saja selama masih dalam konteks bidang penelitian yang disepakati. Tapi tidak ada target bahwa hasil penelitian tersebut harus bisa diimplementasikan menjadi produk," ujarnya pada kesempatan yang sama. Lebih lanjut Tony mencontohkan seorang periset di Beijing yang menemukan teknologi pointer untuk layar komputer. Ketika ditanya akan digunakan untuk apa teknologi tersebut, sang peneliti menjawab tidak tahu. "Tapi, akhirnya teknologi itu dipakai di Tablet PC terbaru Toshiba," Tony menambahkan. Perguruan Tinggi Lain?Microsoft, ITB dan ITS menandatangani Memorandum of Understanding yang berlaku selama tiga tahun. Tony mengatakan, kesepakatan itu masih bisa diperpanjang. Andreas menjelaskan, penunjukkan kedua perguruan tinggi tersebut memang terbatas pada perguruan tinggi yang ditunjuk SBY. "Kami sih berharap obyek penelitian ditambah dan jumlah perguruan tingginya juga ditambah," ujarnya. Sedangkan mengenai topik penelitian masing-masing universitas, menurut Andreas hal itu didasari pada keunggulan dan proposal masing-masing perguruan tinggi. "Dari situ dijaga, jangan sampai ITB bersaing dengan ITS, tapi pusat riset Indonesia harus bersaing dengan pusat riset di negara lain," kata Andreas. Dalam kesepakatan itu ditetapkan bahwa ITB akan menangani bidang penelitian Next Generation User Interface, Media Computing, Digital Entertainment, Data Mining, Web Searching, dan Wireless Technology. Di sisi lain, ITS akan menangani bidang penelitian Software Application Development, Knowledge Management, System Integration, dan Multimedia Design. Bukan Bangunan Pusat Riset Mengoreksi pemberitaan di media yang mengatakan bahwa pusat riset Microsoft akan menempati sebuah lahan di Jababeka, Tony mengatakan pembicaraan belum sampai ke sana. "Bagi Microsoft, bukan fisik yang utama tetapi adanya kemauan dari pemerintah untuk memiliki pusat riset. Itu saja sudah bagus," tukasnya. Terlebih, lanjut Tony, SBY telah mengatakan kalau Indonesia berkomitmen untuk menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual. "Bill (Gates-red) melihat kesungguhan pemerintah Indonesia untuk membangun pusat riset. Meski piracy rate masih tinggi, Bill tetap mau bikin pusat riset," ia menambahkan."Jadi seperti yang dikatakan Bill Gates kepada SBY (ketika kunjungan ke Amerika Serikat -red), untuk membangun pusat riset itu banyak tahapannya. Dimulai dengan research collaboration project dengan perguruan tinggi dulu," ia memaparkan. Tony menjelaskan, riset di Indonesia akan berada di bawah naungan Microsoft Research Asia yang berbasis di Beijing, Cina. Pusat riset di Beijing merupakan pusat riset Microsoft terbesar kedua di dunia setelah pusat riset di Redmond, AS. "Nantinya Microsoft Indonesia membantu memfasilitasi. Akan ada orang dari Microsoft Asia yang akan memberi pengarahan. Pusat riset akan ada di perguruan tinggi itu dan dananya dari Microsoft Asia," Tony menambahkan. Keterangan foto: Pusat Riset Microsoft di Beijing
(wsh/)