Senin, 30 Jul 2018 14:07 WIB

Inggris Kecam Facebook Soal Hoax dan Rohingya

Indissa Salsabila - detikInet
Foto: Australia Plus ABC Foto: Australia Plus ABC
Jakarta - Facebook dituding merendahkan upaya bantuan internasional untuk Burma, Myanmar, karena menyebarkan ujaran kebencian dan hoax.

Menurut laporan politikus asal Inggris yang bergabung dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), telah banyak beredar hoax dan ujaran kebencian terkait penganiayaan kelompok Rohingya di Facebook.



Perusahaan yang sudah ada sejak 2004 ini menyajikan sebuah layanan internet yang populer di Myanmar bernama 'Free Basic'. Layanan ini dipercaya telah membantu menyebarkan ujaran kebencian dan memperburuk pembantaian kelompok Rohingya.

Dikutip detikINET dari Business Insider, Senin (30/7/2018), anggota Parlemen Inggris mengatakan hal ini berpotensi menghalangi keberhasilan program bantuan untuk Burma dari Inggris. Facebook dinilai telah gagal untuk membantu bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform.

"Facebook telah mengacaukan bantuan internasional untuk kelompok Rohingya di Myanmar, termasuk upaya pemerintah Inggris," ujar laporan yang dikirimkan politikus Inggris.

Ia juga menambahkan, layanan Free Basic berbahaya untuk para pengguna dan sangat tidak beretika. Tentara Myanmar telah mengusir lebih dari setengah juta kelompok Rohingya secara brutal dengan cara membunuh, membakar, memerkosa, dan menyiksa. Kejadian ini memicu kecaman untuk Myanmar di seluruh dunia.

Facebook saat ini sedang dalam pengawasan ketat atas perannya dalam krisis yang terjadi. Pada Maret lalu, UN mengatakan Facebook menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi kehidupan publik di Myamar, bahkan penganut agama ultra-nasionalis Budha menyalahgunakan platform untuk membagikan ujaran kebencian.

Menurut laporan Washington Post, Facebook di Myanmar dibanjiri dengan hoax bahwa tidak ada pambantaian etnis di negara tersebut atau yang disebut sebagai propaganda genosida.



Laporan itu juga menyebutkan lebih banyak orang di Myanmar mengakses Facebook dibandingkan akses listrik untuk rumah mereka. Hingga saat ini, Inggris telah memberikan bantuan senilai Rp 2,4 triliun untuk menolong kelompok Rohingya.

Sayangnya, Facebook belum memberikan tanggapan apapun terkait laporan ini. Akan tetapi, sang CEO Mark Zuckerberg mengakui bahwa para pengguna Facebook memang mencoba memicu kericuhan di Myanmar.
Tonton juga video: 'Cox'z Bazar Longsor dan Banjir, Pengungsi Rohingya Terusir'

[Gambas:Video 20detik]



(rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed