Tidak Hanya Sidik Jari
Telinga Bisa Jadi Identifikasi Biometrik
- detikInet
Jakarta -
Peneliti di Inggris menemukan adanya pola unik dalam telinga manusia. Mereka mengusulkan agar pola tersebut dapat dijadikan identitas biometrik, seperti yang selama ini dilakukan pada sidik jari.Peneliti di Inggris mengusulkan agar pola unik yang terdapat dalam telinga manusia, dapat digunakan sebagai identitas biometrik. Sama halnya dengan pengenalan sidik jari yang digunakan pada saat ini.Profesor Mark Nixon dari Universitas Southampton, seperti dikutip detikinet, Senin (1/8/2005) dari BBC News mengatakan, telinga manusia tidak terlalu banyak berubah seiring dengan bertambahnya usia manusia. Hal ini tidak seperti bagian tubuh yang lain.Dia mempercayai, fakta itu bisa ditujukan untuk keperluan identifikasi seseorang, karena keunikannya dan tak lekang oleh waktu dan penampilan."Jika dibandingkan dengan wajah, telinga merupakan biometrik yang tidak invasive. Artinya, tidak mempengaruhi penampilan secara langsung. Sedang dengan wajah, ada perbedaan saat seseorang tersenyum, atau bertambah usia, karena memiliki keriput," katanya."Telinga tetap menjaga bentuknya ketika seseorang beranjak dewasa. Hal ini menjadi keuntungan pada biometrik."Pola BiometrikTanda biometrik dapat diambil dari gigi, sidik jari dan retina mata. Banyak negara melihat sistem ini sebagai kartu pengenal dan passport. Biometrik juga sudah digunakan untuk keperluan komputasi yang melibatkan sidik jari untuk mengenali pengguna.Teknik biometrik melalui pengenalan wajah juga telah direalisasikan. Teknik ini dinilai sebagai terobosan forensik terbesar setelah DNA. Bagi Dr Nixon, biometrik menggunakan wajah memiliki sejumlah masalah, oleh karenanya dia menggunakan telinga sebagai alernatif lain.Dr Nixon mencontohkan, masyarakat tidak mendekorasi telinganya seperti halnya wajah, misalnya dengan make-up. Dua tahun lalu, Kantor Imigrasi Kanada memberlakukan ketetapan sehubungan dengan foto paspor.Dikatakan, foto pemegang paspor tidak dibenarkan dalam keadaan tersenyum. Termasuk penggunaan rambut palsu atau aksesoris kepala lainnya, yang memungkinkan identitas wajah pemegang paspor sulit dikenali."Rambut pada telinga dapat menjadi masalah karena kadang-kadang rambut dapat mengaburkan pengenalan pola pada telinga,tetapi teknologi pemrosesan gambar saat ini dapat mengatasinya," tambah Prof Nixon."Yang kami tunjukkan adalah setiap orang memiliki ciri sendiri pada telinganya sehingga dapat digunakan sebagai identitas untuk mengenali seseorang."
(nks/)