Kamis, 26 Jul 2018 19:51 WIB

Indahnya Alam Leuser yang Terekam Google Earth

Agus Setyadi - detikInet
Foto: screenshot Google Earth
Aceh - Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menyusun kisah berbahasa Inggris tentang Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang ditampilkan pada pemetaan Google Earth.

Dengan adanya program ini, masyarakat dapat lebih mengenali keindahan alam Leuser dan kawasan tempat satwa langka hidup. Kisah KEL di Voyager Google Earth tersebut dapat dijelajahi di tautan https://g.co/earth/leuser.

Geographic Information System (GIS) Manager HAkA Agung Dwinurcahya, mengatakan, KEL merupakan area dengan luas 2,6 juta hektar yang terletak di provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Kawasan ini telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai Kawasan Strategis Nasional dari sudut pandang lingkungan hidup.



"Sebagian dari kawasan ini berupa Taman Nasional yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan hutan hujan tropis di Sumatera. KEL juga diatur dalam Keputusan Presiden dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh untuk dikelola secara lestari dan berkelanjutan," kata Agung dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/7/2018).

"KEL merupakan tempat terakhir di muka bumi di mana badak, gajah, harimau dan orangutan Sumatera berada bersama di alam bebas. KEL sangat berperan sebagai penyedia air bagi jutaan orang yang tinggal di dalam dan sekitarnya, mitigasi perubahan iklim dan bencana dan sebagai penyerap karbon," jelas Agung.

Menurutnya, meski KEL merupakan grup hutan terluas yang masih tersisa di Sumatera, kawasan ini terus menerus mengalami penghancuran baik secara sistematis maupun sporadis.

Indahnya Alam Leuser yang Terekam Google Earth


Laju kerusakan hutan di KEL menurut data Yayasan HAkA memang mengalami penurunan. Namun tetap saja, ini merupakan kehilangan yang sangat besar bagi hutan di Aceh karena mempunyai peran penting dalam mengurangi dampak bencana ekologis yang kerap terjadi.

"Sayangnya kerugian yang begitu besar dari bencana tersebut tidak meningkatkan pemahaman untuk menjaga keutuhan hutan di Aceh. Program-program yang mendorong kerusakan hutan masih dengan mudah ditemui dengan dalih meningkatkan ekonomi masyarakat," ungkapnya.

Social Media Officer HAkA, Irham Hudaya Yunardi mengatakan, Voyager KEL ini terdiri dari delapan panel berisi narasi beserta foto, video dan lokasi di peta Google Earth. Setiap panel mempunyai topik tertentu, seperti 'Arti Penting KEL', 'Flora dan Fauna' dan 'Ancaman di dalam KEL'.

"Cerita pada panel tersebut didampingi foto atau video dan lokasi di peta agar pembaca merasa mengikuti sebuah tur di KEL," jelas Irham.

Panel pertama menggambarkan keanekaragaman hayati yang merupakan surga tersembunyi di dunia. Panel ini menampilkan video fauna langka seperti gajah, harimau, beruang dari kamera trap Forum Konservasi Leuser (FKL) yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.



Sementara panel kedua berisi tentang arti penting KEL, antara lain sebagai pemasok air dan mitigasi perubahan iklim. Panel ketiga bercerita tentang flora dan fauna unik yang berada di KEL.

Program Manager dari Google Earth Outreach menjelaskan, fitur Voyager di dalam Google Earth merupakan inovasi canggih Google yang memberikan wadah untuk menuliskan kisah dengan cara baru. (rns/rns)